BETANEWS.ID, SOLO – Sebagai pusat kajian islam dari dulu hingga sekarang, Masjid Agung Keraton Surakarta memiliki banyak kitab-kitab kuno. Manuskrip itu hingga saat ini terkumpul di perpustakaan yang berada di halaman masjid. Sayangnya, banyak manuskrip itu telah termakan rayap, sehingga tidak sedikit halaman dari kitab-kitab tersebut sulit dibaca.
Untuk itu, pihak Masjid Agung telah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk melakukan digitalisasi manuskrip tersebut. Alhasil, sebagian manuskrip yang sudah didigitalisasi dapat diakses menggunakan perangkat komputer atau gawai. Dengan upaya yang telah dilakukan, pengunjung perpustakaan juga mengalami peningkatan.
“Kalau minat dari pengunjung digitalisasinya itu cukup tertarik soale daripada susah-susah buka manuskrip takutnya kan ada yang robek itu enak banget kalau terbantu dengan kayak gini,” kata tim media Masjid Agung, Yan Abi Krisna (26).
Untuk mengakses manuskrip sigital, di perpustakaan tersebut telah disediakan sejumlah komputer. Meski sudah didigitalisasi, 107 naskah manuskrip juga masih tertata rapih di dua buah rak di sudut perpustakaan itu.
“Tapi masih belum semua (manuskrip yang didigitalisasi), masih banyak yang belum. Kalau yang belum itu kendalanya banyak,” katanya.
Beberapa kendala di antaranya adalah masih ada lembaran manuskrip yang belum ditemukan, serta kertas yang termakan rayap yang membuat tulisan tidak terbaca.
Untuk manuskrip yang masih tersimpan, saat ini sudah mendapatkan perawatan. Seperti dimasukkan ke dalam sampul kotaknyang cukup tebal, serta beberapa perawatan lainnya agar tidak lagi dimakan rayap.
Baca juga: Museum Radya Pustaka, Museum Tertua di Indonesia yang Simpan Benda Peninggalan Keraton Solo
Perpustakaan Masjid Agung Keraton Surakarta buka setiap Senin hingga Sabtu, dari pukul 8.00 sampai 16.00 WIB. Selain manuskrip kuno, terdapat juga buku-buku tentang kajian keislaman.
“Di sini bukunya banyak ada umum filosofi agama sastra bahkan novel pun juga ada manuskrip juga ada. Untuk rata-rata kunjungan sekarang kalau saya melihat 5 sampai 10 pengunjung per harinya itu dari kalangan umum, mahasiswa, anak-anak dan anak-anak pondok,” ujarnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

