BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan mainan lampion dengan bentuk berbeda-beda tampak dijajakan di tepi Jalan Jalan Jendral Sudirman, Desa Rendeng, Kecamatan/Kabupaten Kudus. Oleh sang penjual, Kurniawan (52), mainan itu dicantolkan ke sebuah taIi yang diikatkan ke pohon.
Mainan warna-warni itu sontak saja mengundang penasaran beberapa pengendara yang mampir untuk sekadar melihat-lihat atau membawanya pulang.
Menurut Kurniawan, momen menjelang lebaran dimanfaatkannya untuk mencari penghasilan tambahan. Mengingat, mainan lampion sangat digemari khususnya kalangan anak-anak.
Baca juga: Berkah Ramadan, Penjual Kolang-kaling dan Cincau Hitam di Demak Ramai Pembeli
“Penjualan mainan lampion ini peminatnya lumayan. Biasanya satu pekan sebelum lebaran lampion yang saya dasarkan ini sudah habis diborong pembeli,” beber pria yang akrab disapa Kus kepada Betanews.id, Sabtu (8/4/2023).
Berbagai bentuk lampion yang dijualnya itu, ada bentuk masjid yang berukuran kecil, masjid berukuran besar, masjid Menara, dan kapal. Menurutnya, yang paling cepat laku adalah lampion berbentuk kapal dan masjid menara.
“Kalau untuk harga bervariasi, mulai dari Rp25 ribu sampai Rp30 ribu sudah mendapat lampu mainan atau senter mainan,” rinci warga Desa Rendeng RT 2 RW 2, Kecamatan/Kabupaten Kudus.
Ia menjelaskan, mainan lampion itu ia ambil dari pembuatnya langsung yakni dari daerah Mayong, Jepara. Saat ini, ia mengambil 100 mainan lampion. Barang tersebut biasanya habis dalam waktu yang singkat lantaran banyak peminatnya.
Baca juga: Banyak Diburu Saat Ramadan, Penjual Blewah di Tepi Jalan Pantura Trengguli Demak Laris Manis
“Saya ambil 100 barang saja ini mas. Biasanya barang banyak diambil pedagang lain untuk dijual kembali. Itu ya saya berikan karena ada yang ingin sama-sama cari nafkah,” ungkap bapak yang dikaruniai dua orang anak tersebut.
Ia menambahkan, ia berjualan mainan lampion itu lantaran kesehariannya yang berjualan warung makan selama Ramadan tutup, sehingga ia mencari alternatif lain untuk bisa menafkahi keluarga dan mencari tambahan pendapatan selama bulan suci.
Editor: Ahmad Muhlisin

