31 C
Kudus
Jumat, Februari 13, 2026

Digempur Aksesoris dari China, Pengrajin Monel di Jepara Ini Omzetnya Terjun Bebas

BETANEWS.ID, JEPARA – Andi Suprayanto (43) terlihat begitu telaten menggergaji monel yang akan dibentuk menjadi sebuah kalung nama. Tangannya itu terlihat lihai berlenggak-lenggok mengikuti arah pola yang akan dipotong.

Sehari-hari, owner usaha aksesoris bernama Elly Acc itu memang lebih banyak menghabiskan waktu untuk membuat berbagai aksesoris berbahan monel. Baginya, monel merupakan sahabat karibnya dalam mencari rezeki sejak tujuh tahun lalu.

Sebagai pebisnis aksesoris, Andi memulainya dengan bekerja ikut orang. Waktu itu ia menfaatkan untuk belajar ngebor, mahat, ngamplas, sampai ikut mendesain motif. Setelah menganggap dirinya mahir, ia lantas merintis usahanya sendiri pada 2017 lalu dengan berbekal mesin bor yang ia beli murah dari temannya yang saat itu sedang membutuhkan uang.

-Advertisement-

Baca juga: Perhiasan Monel yang Bisa Custom Nama di Jepara Ini Sudah Tembus Pasar Luar Negeri

Produk pertamanya berupa kalung yang terbuat dari bahan limbah bahan kuningan, kemudian ia sepuh dengan tambahan warna emas. Di kala itu, produk berlapis emas menurutnya belum terlalu populer. Kalung dengan ukiran nama tersebut ia jual pertama kali dengan harga Rp60-75 ribu.

Harga tersebut di masa itu banyak diprotes oleh para pembeli karena dianggap terlalu mahal, dibanding monel yang harganya Rp35 ribu. Akibatnya, aksesoris berlapis emas yang dijual dengan harga tersebut juga tidak laku dibeli pembeli.

Awalnya, usaha Andi berjalan cukup sukses dengan omzet yang terus meningkat. Namun, usahanya mulai seret saat aksesoris dari China menggempur pasar Indonesia. Persaingan harga akhirnya tak terelakkan dan membuat dirinya harus menurunkan harga agar bisa bersaing.

Baca juga: Awalnya Cuma Reseller, Kerja Keras Antarkan Tri Punya Bisnis Kalung Nama Beromzet Ratusan Juta

“Kadang teman juga jadi musuh karena saingan harga. Yang Stabil itu justru monel, tapi sekarang peminatnya sedikit,” katanya pada Betanews, Jumat (24/03/2023).

Jika dulu ia mampu mengantongi pemasukan sekitar Rp30 juta per bulan, sekarang ia hanya mampu mendapatkan Rp10-15 juta per bulan. Omzet itu dari produksi harian sekitar 25 produk atau sekitar 600 produk dalam sebulan.

“Karena harganya jatuh saya jadi udah nggak main di marketplace lagi. Lebih banyak nerima pesanan reseller,” katanya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER