31 C
Kudus
Senin, Mei 27, 2024

Perceraian di Jepara Capai 2208 Kasus, Setengah di Antaranya Diajukan Oleh Buruh

BETANEWS.ID, JEPARA – Tingkat angka perceraian di Jepara dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data dari Pengadilan Agama Jepara, pada tahun 2022 terdapat 2208 kasus perceraian. Kasus paling banyak terjadi pada cerai gugat, di mana pihak istri yang lebih dulu mengajukan perceraian mencapai 1757 kasus.

Hal itu diungkapkan Mahmudi, Panitera Muda (Panmud) Gugatan di Pengadilan Agama Jepara, kepada Betanews.id, Senin (27/3/2023). Menurutnya, jumlah tersebut mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya sebesar 1576 kasus. Sementara dari sektor pekerjaan, buruh menempati posisi tertinggi mencapai 42,2 persen atau setara dengan 1212 orang yang mengajukan.

Dia menjelaskan, rata-rata umur yang mengajukan gugatan dengan angka paling tinggi berada di usia 31-40 tahun sebanyak 856 orang. Hanya berselih sedikit, sebanyak 854 kasus berada di rentang usia 21-30 tahun. Sehingga banyaknya perkara gugatan di Jepara justru terjadi di usia-usia produktif.

-Advertisement-

Baca juga: Banyak Istri di Jepara Menggugat Cerai, Munculnya Pabrik Garmen Dituding Jadi Penyebab

Rendahnya pendidikan berada di rentang pertama dalam penggolongan kasus berdasarkan tingkat pendidikan. Sebanyak 1023 kasus diajukan oleh orang-orang yang hanya menyelesaikan tamatan sekolah dasar.

Menurut Mahmudi, tingginya angka perceraian tersebut disebabkan oleh beragam faktor. Kasus paling banyak terjadi karena banyaknya ibu atau istri yang bekerja. Ia menambahkan bahwa alasan seorang ibu atau istri yang tadinya bekerja untuk membantu perekonomian, justru menimbulkan perkara dalam rumah tangga.

“Bukan karena kekurangan ekonomi, tetapi karena merasa tidak puas. Tadinya bekerja niatnya mau membantu, tetapi karena sudah punya gaji sendiri, dan merasa yang diberikan suami lebih kecil sehingga merasa kurang,” katanya.

Hal yang turut menjadi faktor selanjutnya adalah adanya perselingkuhan atau datangnya orang ketiga dalam pernikahan. Ketiga karena adanya miras atau mabuk-mabukan dan juga narkoba. Ketika salah satu pihak terkena kasus tersebut kemudian dipenjara, banyak pasangannya yang kemudian mengajukan gugatan cerai. Serta yang terakhir karena adanya pencurian.

Dari tingginya angka perceraian tersebut, ia menyarankan kepada setiap pasangan yang akan menikah agar menguatkan niat serta motivasinya sebelum menikah. Sebab menurutnya selama ini jarang ia menemukan pasangan yang mempunyai landasan niat yang jelas ketika hendak menikah. Masih banyak masyarakat yang menikah karena alasan ekonomi serta keinginan untuk mempunyai regenerasi.

Baca juga: Angka Perceraian di Kota Semarang Capai 1.774 Kasus

“Pada waktu mau menikah, landasilah pernikahanmu dengan niat. Kamu menikah itu tujuannya untuk apa? Setelah kamu mempunyai niat pernikahanmu itu untuk apa, maka kamu akan berpikir seribu seratus kali jika sedang mempunyai masalah rumah tangga kemudian memutuskan untuk bercerai.”

“Sebab ketika sudah menikah bukan hanya uang yang dibutuhkan, sehingga niat itulah yang harus ditata terlebih dahulu pada saat akan menikah,” pungkasnya.

Editor: Suwoko

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
30,973PengikutMengikuti
137,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER