BETANEWS.ID, KUDUS – Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) merilis data angka kasus stunting di Kabupaten Kudus naik dari 17,6 persen menjadi 19 persen di 2022. Data ini disanggah oleh Bupati Kudus HM Hartopo yang menyebut data lebih valid harusnya dari lapangan lewat pengecekan dari rumah ke rumah.
“Angka stunting di Kudus naik itu data dari mana. Data dari mana itu, kalau kita itu surveinya dari rumah ke rumah, itu lebih akurat. Dan, saya kira angka stunting di Kudus lebih sedikit,” ujar Hartopo usia Pengukuhan Tim Kabupaten Kudus Sehat di Hotel @Hom, Selasa (21/3/2023).
Berbeda dengan bupati, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) pada Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, Nuryanto, membenarkan data SSGI tersebut. Kenaikan angka stunting tersebut, kata Nuryanto menjadi tantangan yang penanganannya harus disengkuyung bersama dan tidak hanya jadi tanggung jawab DKK saja.
Baca juga: Penurunan Angka Stunting di Kudus Akan Dilakukan dari Hulu Hingga Hilir
“Kami berharap semua OPD (Organisasi Perangkat Daerah) terlibat untuk tangani stunting. Karena kemampuan dari Dinas Kesehatan di dalam intevensi spesifik hanya 30 persen. Sedangkan 70 persen lainnya adalah di wilayahnya OPD lain. Jadi harus saling sinergi dan berkolaborasi,” tegasnya.
Meksi ada kenaikan angka stunting di tahun lalu, Nuryanto optimisi Kabupaten Kudus bisa mencapai target di tahun 2024 yakni angka stunting turun jadi 14 persen. Sebab, jika mengacu pada data Aplikasi Pencacatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (APPGBM), angka stunting di Kudus kurang lebih 6,8 persen.
“Jadi ada perbedaan. SSGI itu surveinya menggunakan sampel satu dari 10 bayi. Sementara APPGM, penimbangan dilakukan ketika posyandu bulanan dan semua bayi ditimbang satu-satu. Jadi kami optimis dan akan selalu berupaya untuk menekan angka stunting,” jelasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

