BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria tampak sibuk di depan laptop di kedai kopi bernama Fala Coffee yang berlokasi di Desa Purworejo RT 1 RW 1, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Sesekali ada pembeli yang masuk ke kedai itu disambut ramah oleh pria tersebut yang bernama Falah Luthfi (26) yang tak lain adalah Owner Fala Coffee.
Kepada Betanews.id, Upay begitu ia akrab disapa bersedia berbagi kisah awal merintis usaha coffee shop tersebut. Ia menuturkan, usaha tersebut berawal dari tidak kesengajaannya yang sebelumnya ia tak begitu tertarik dengan dunia kopi. Hal itu berawal saat ia menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah daerah penghasil kopi robusta unggulan di Indonesia yakni, di Sumatera Selatan.
Dengan niat mengembangkan kopi di daerah tersebut, petani disosialisasikan dengan program-program yang sudah dibuat dengan timnya. Tak berhenti di sana, Upay yang sudah sedikit banyak mengetahui kopi memiliki perkembangan yang luas, lalu ia bertemu dengan salah satu pemilik kedai kopi yang ada di Jogja yakni Owner Dongeng Kopi untuk mempelajari kopi dan sempat ikut pelatihan menyeduh kopi yang benar.

Baca juga: Fala Coffee, Tempat Ngopi Asyik di Kudus yang Bernuansa Alam
Setelah bisa, lalu ia tertarik untuk membuka kedai kopi pertama kali pada Desember 2019 yang berlokasi di Jogja. Namun pada awalnya ia justru berpikir, usaha itu merupakan kesalahan terbesarnya karena sebelumnya ia memiliki usaha percetakan yang dikelola bersama satu temanya yang ditutup dan lebih memilih untuk merintis usaha baru di dunia kopi.
“Usaha ini salah satu kesalahan terbesar saya dalam usaha waktu itu ya mas. Karena sebenarnya saya melepaskan usaha percetakan yang saat itu memiliki prospek yang jauh lebih bagus dibandingkan usaha yang baru saja saya rintis ini,” katanya saat ditemui di lokasi, Rabu (8/2/2023).
Tak lama kemudian, kata Upay, usaha yang baru jalan beberapa bulan itu terdampak pandemi. Tak hanya dia saja yang merasakan hal itu, tapi semua sektor usaha terdampak adanya pandemi. Lantaran ada pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), lokasi kedai yang tak jauh dari area kampus UGM itu sepi pembeli, karena tidak ada aktivitas kampus pada saat itu.
“Kemudian saya pulang ke Kudus mulai rintis usaha lagi yang awalnya juga tidak direstui orang tua. Karena mindset orang tua ketika seseorang lulus sarjana menginginkan anaknya bekerja. Tapi saya kekeh dengan keputusan saya, karena sebelumnya saya sudah merasakan hasil dari usaha saya,” ucap anak ragil dari dua bersaudara.
“Suatu ketika, saya juga sempat lamar kerja karena keadaan masih belum begitu stabil untuk buka usaha. Sambil menunggu lamaran ada yang respon, orang tua mengizinkan untuk usaha secara online dulu pada saat itu dan alhamdulillah ramai. Jadinya saya tidak jadi bekerja dan membuka kedai ini,” tuturnya.
Pria lulusan Sarjana Teknik Industri di Universitas Gajah Mada (UGM) itu kemudian merintis dan mengembangkan usaha kedai kopi lagi dengan nama yang sama pada saat pertama kali rintis di Jogja.
Berlokasi yang terbilang jauh dari tempat ramai, lanjut Upay, pihaknya melakukan stategi pemasaran melalui media sosial, menggunakan jasa influenser atau selebgram untuk memperkenalkan usahanya itu kepada masyarakat Kudus.
Menurutnya, banyak pembeli yang datang ke tempat itu dan banyak yang memberikan feedback bagus. Dengan tempat bernuansa alam, pembeli yang awalnya penasaran, kembali lagi karena tempat yang disediakannya itu nyaman bagi pelanggan.
Baca juga: Kafe Evaluasi, Tempat Nongkrong Mahasiswa Kudus yang Harganya Merakyat
Tak hanya menyediakan tempat yang nyaman, di sana juga menyediakan banyak varian menu kopi dan menu makanan tambahan dengan harga yang terjangkau. Menu itu di antaranya varian kopi, mixologi, dan makanan berat.
“Kalau harganya cukup terjangkau, untuk menu kopi mulai dari Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu. Sementara untuk menu makanannya mulai dari Rp 12 ribu sampai Rp 19 ribu,” rinci Upay.
Ia menambahkan, setidaknya dalam sehari ia bisa menjual 60 porsi sampai 80 porsi secara global. Kebanyakan pembelinya dari kalangan mahasiswa, pekerja kantor, dan beberapa lapisan masyarakat lainnya.
“Saya berharap semoga usaha ini semakin berkembang dari sisi internalnya maupun ekternal. Internal dari SDM pekerja yang mampu melayani dan tempat, kemudian ekternalnya semakin banyak yang ke sini, serta bisa buka cabang,” tandasnya.
Editor: Kholistiono

