BETANEWS.ID, SOLO – Tak lama lagi, Masjid Raya Sheikh Zayed Solo akan segera dibuka untuk masyarakat umum. Sejumlah fasilitas juga sangat diperhatikan, termasuk bagi para jemaah yang merupakan penyandang disabilitas.
Oleh sebab itu, saat simulasi, Rabu (23/2/2023), beberapa penyandang disabilitas juga diundang melaksanakan salat berjamaah. Hal itu guna mendapatkan evaluasi sehingga saat masjid sudah digunakan, mereka dapat dengan nyaman menunaikan ibadah.
Salah seorang penyandang disabilitas, Slamet Widodo, mengatakan, secara keseluruhan Masjid Raya Sheikh Zayed sudah sesuai, tapi ada beberapa hal yang perlu ditingkatan agar penyandang disabilitas lebih nyaman.
Baca juga: Masjid Sheikh Zayed Solo Siap Digunakan untuk Ibadah, Ramah Disabilitas
“Misalkan penunjuk bagi kawan-kawan disabilitas tunanetra. Ada tulisan braile atau lantai yang khusus bisa dilewati teman-teman tunanetra. Seperti di trotoar itu, yang warna kuning timbul itu kalau bisa seperti itu jadi sangat membantu kawan kawan disabilitas tunanetra untuk mengakses bagian yang ada di masjid ini,” kata anggota Komunitas Motor Disabilitas Indonesia itu.
Slamet juga sangat terkesan ketika pertama kali beribadah di Masjid Sheikh Zayed Solo ini. Ia merasa seperti sedang berada di Masjid Nabawi di Madinah.
“Saya berasa di Madinah, kaya di Masjid Nabawi. Jadi sudah bayangannya ke sana, mudah-mudahan ini kaya ikhtiar saya, mudah-mudahan saya bisa berangkat ke sana,” ujarnya.
Direktur operasional Masjid Zayed, Munajat, menyampaikan, pihaknya sudah mengantongi beberapa evaluasi yang perlu ditingkatkan agar masjid lebih nyaman untuk penyandang disabilitas. Salah satu yang jadi sorotan adalah penanda batas saf, apalagi untuk penyandang tunanetra.
“Kemarin kita baru mencari vendor yang bisa mengatur saf memakai laser atau apa, kami sedang berusaha. Nah contoh yang kecil-kecil gini jangan sampai tertinggal,” paparnya.
Baca juga: Masjid Syeikh Zayed Solo Akan Dibuka untuk Umum Mulai 28 Februari
Pada bagian pelat penunjuk pada beberapa titik juga jadi perhatian penyandang disabilitas. Mereka memeinta agar pada bagian tersebut diperjelas dengan menggunakan penunjuk arah yang lebih spesifik sehingga memudahkan.
Selain itu, Munajat mengatakan bahwa pihaknya mendapatkan masukan berupa penambahan kursi bagi jemaah yang tidak mampu berdiri ketika beribadah. Ia menyebut, saat soft opening beberapa jemaah berkursi roda agak lambat mendapatkan kursi untuk salat.
“Sesudah ini kita evaluasi, lanjut besok juga ada kunjungan. Besok kita fokuskan ke anak, jadi kita lepaskan dan kita awasi apakah sudah aman untuk anak-anak juga,” katanya.
Editor: Ahmad Muhlisin

