BETANEWS.ID, KUDUS – Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) menggelar acara Ta’sis Masjid Al-Aqsha Menara Kudus ke 488 selama enam hari, yakni 4-9 Februari 2023. Ada berbagai rangkaian acara memperingati berdirinya Masjid Al-Aqsha Menara Kudus tersebut. Di antaranya adalah Kirab Banyu Panguripan Punden dan Belik yang ada seluruh wilayah “Kasunanan Kudus”.
Kirab Banyu Panguripan Punden dan Belik sendiri dilaksanakan pada Minggu (5/2/2023). Kirab ini, dimulai dari Pendopo Kabupaten menuju ke Manara Kudus dan dilepas langsung oleh Bupati Kudus HM Hartopo. Di hadapan Bupati Kudus, pihak Menara Kudus menginformasikan mulai menggunakan terminologi “Kasunanan Kudus”
Tampak ribuan peserta kirab memenuhi halaman Pendopo Kudus. Mereka menggunakan baju putih dan sarung batik serta mengenakan ikat kepala. Mereka juga membawa gentong sebagai wadah Banyu Panguripan dari sendang dan belik di desa masing-masing.

Baca juga: Wujudkan Toleransi Antarumat Beragama, Jemaat Gereja Katolik Ikuti Kirab Banyu Penguripan
Dalam sambutannya, Steering Committee Perayaan Ta’sis Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, Abdul Djalil mengatakan, Ta’sis Masjid dan Menara Kudus tahun ini mengambil tema “Keadaban Untuk Peradaban”. Dengan tema tersebut, pihaknya ingin mengajak semua orang mereflesikan dalam membangun Kudus.
“Kita ingin mereflesikan untuk membangun Kudus. Membangun peradaban harus dilandasi kecerdasan dan kejernihan hati,” ujar pria yang akrab disapa Jalil tersebut.
Sementara dalam acara kirab, lanjutnya, punden dan belik yang dilibatkan tahun ini sebanyak 197. Menurutnya, jumlah 197 itu refleksi dari tanggal dan bulan Ta’sis Masjid Al-Aqsha Menara Kudus.
“Ta’sis Menara Kudus lahir tanggal 19 Rajab. Sedangkan Rajab adalah bulan ke Tujuh terhitung mulai Muharram. 19 itu tanggalnya dan 7 itu bulannya,” ujar pria yang akrab disapa Jalil tersebut.
Jalil juga mengungkapkan kepada Bupati Kudus, bahwa jumlah peserta kirab hanya seperempat dari kekuatan. Jika diikutkan semua, sendang dan belik yang teregister jumlahnya ada 468. Sementara yang masuk dalam waiting list dan sedang proses verifikasi ada 150 sendang dan belik.
“Itulah jumlah kekuatan anggota kami. Yang ikut kirab ini baru seperempatnya saja pak Bupati,” bebernya.
Dalam sambutannya tersebut, Jalil menginformasikan bahwa per tahun ini pihak Menara Kudus menggunakan terminologi “Kasunanan Kudus”. Sehingga istilah yang digunakan untuk keanggotaan pihak Menara Kudus adalah Perhimpunan Pemangku Punden dan Belik Kasunanan Kudus.
“Kita gunakan terminologi Kasunan Kudus, karena di sana Sunan Kudus, maka tempatnya Kasunanan. Sementara di sini bupati, makanya tempatnya kabupaten. Sehingga istilah yang kami gunakan Kirab Banyu Panguripan Kasunanan Kudus,” jelasnya.
Selain itu, Kirab Banyi Panguripan tahun ini ada yang berbeda dengan sebelumnya. Yakni, penyelenggara kegiatan Yayasan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus menampilkan 60 pasukan Bregodo di barisan paling depan.
Bregodo atau pasukan prajurit kraton diperankan oleh para pelajar tingkat SMA sederajat di Kabupaten Kudus. Dalam hal ini, Bregodo disulap menjadi pasukan khusus pengiring kirab dengan membawa beragam alat musik, mulai dari terompet bariton, dram, hingga alat musik jenis simbal. Ada juga pasukan pembawa bendera dari kalangan pelajar perempuan di dalam Bregodo.
Abdul Djalil menyampaikan, Bregodo Kasunanan ini ditampilkan pertama kali sepanjang sejarah penyelenggaraan kirab banyu penguripan.
Kata dia, pasukan Bregodo atau pasukan infantri muncul lataran Sunan Kudus dahulu adalah seorang panglima perang.
Djalil menyebut, Bregodo menjadi pasukan genderang kasunanan yang selalu berada di barisan depan saat perang.
Baca juga: Berharap Berkah, Warga Berebut Air di Kirab Banyu Penguripan Kudus
Sementara Bupati Kudus HM Hartopo dalam sambutannya tak menanggapi terkait terminologi Kasunanan Kudus tersebut. Dia mengatakan, Ta’sis Menara Kudus ke-488 merupakan momentum untuk ‘ngalap’ berkah perjuangan panjang Sunan Kudus dalam menyiarkan Islam. Oleh sebab itu, napak tilas perjuangan Syekh Ja’far Shodiq harus dilestarikan dan dibumikan.
“Acara ini merupakan rangkaian Hari Jadi Menara Kudus ke-488. Kita sebagai generasi penerus sesepuh Kudus harus ‘nguri-uri’ budaya sekaligus napak tilas Kanjeng Sunan Kudus,” ungkapnya.
Hartopo menaruh harapan besar agar acara Ta’sis Menara ini tiap tahun makin meriah. Selain bisa membangkitkan kebanggaan warga masyarakat Kudus akan budaya dan adat istiadat. Gelaran ini bisa menjadi ikon wisata Kabupaten Kudus yang tentunya bisa meningkatkan perekonomian masyarakat.
“Saya acungi jempol untuk mas Jalil karena ini bisa menjadi ikon wisata budaya di Kudus,” pungkasnya.
Editor: Kholistiono

