Kegigihan Sang Sutradara Perjuangkan HAM dalam Film Invisible Hopes

BETANEWS.ID, SEMARANG – Invisible Hopes produksi Lam Horas Film adalah film yang mengungkap kehidupan nyata anak-anak yang lahir dari ibu narapidana dan terpaksa hidup di balik jeruji penjara. Film yang dirilis pada 3 April 2021 tersebut berhasil mendapatkan penghargaan dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2021 dalam kategori film dokumenter panjang terbaik dan menyabet Piala Maya.

Dalam diskusi yang diadakan Dewan Kesenian Semarang (Dekase), Minggu (12/2/2023) kemarin, sang sutradara sekaligus produser Invisible Hopes, Lamtiar Simorangkir, berkisah bagaimana perjuangannya untuk mewujudkan karya terbarunya tersebut. Ia menceritakan kesedihannya ketika pertama kali mendapati seorang anak narapidana yang ikut hidup di dalam penjara. Kepeduliannya tentang HAM mendorong nalurinya sebagai pelaku film untuk menceritakannya dalam sebuah film dokumenter.

Dilematis bagi Tiar, panggilan Lamtiar, ketika memutuskan memilih genre film dokumenter dalam karya Invisible Hopes ini. Karena sudah barang tentu dia harus tetap melindungi identitas narasumber korban pelanggaran HAM, terlebih anak-anak. Kebimbangan ini beralasan ketika harus memenuhi kebutuhan visual yang layak untuk dinikmati penonton. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, genre film dokumenter tetap ia pilih dengan alasan ingin menghadirkan kekuatan emosional dalam karyanya.

-Advertisement-

Baca juga: Rupa Manusia, Film Dokumenter Tentang Pelaku Seni Rupa yang Kritisi Penegakan HAM

Tiar yang sebelumnya berkutat di genre film fiksi ini mengaku baru kali pertama menggarap film dokumenter. Namun, justru dari Invisible Hopes inilah ia mulai mencintai genre film dokumenter. Ia beralasan bahwa film dokumenter telah membawa pengalaman baru bagi dirinya untuk menceritakan fakta dan realita dengan lebih kuat.

Perjalanan ketika ia memutuskan melakukan observasi di 2017 berawal ketika ia bertemu dengan seorang aktivis anak. Ia mendapatkan cerita tentang banyaknya perempuan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang melahirkan anak-anaknya di dalam penjara, hingga anak-anak tersebut pun ikut menjalani kehidupannya di dalam penjara. Baginya tak habis pikir membayangkan anak-anak yang lahir dan menjalani masa kanak-kanaknya bersama WBP dan kebiasaan-kebiasaan aturan penjara.

“Saya tidak bisa menahan emosi ketika mengobrol dengan anak narapidana yang kemudian memberi gestur perpisahan kepada saya ketika ia beranjak pergi sesaat setelah terdengar bel penanda untuk para narapidana harus masuk ke dalam,” kenangnya.

Sementara lika-liku dalam proses menggarap Invisible Hopes ini sendiri, tutur Tiar, bukanlah hal yang mudah. Ia menjalaninya dengan banyak keterbatasan, baik akses komunikasi, perizinan, teknis produksi, hingga keuangan. Soal keuangan, ia harus menjual mobilnya, dan ia mengaku tidak kembali modal. Hal ini karena ia tak semata-mata mengkomersilkan filmnya, tak lain juga sebagai alat perjuangan HAM.

Mulanya, Tiar kesulitan untuk bisa menembus perizinan Lembaga Pemasyarakatan yang ia tuju untuk produksi film. Namun, setelah proses yang tidak mudah, akhirnya soal perizinan pun beres. Kenyataannya, rintangan tidak hanya satu dua ia hadapi. Dalam situasi yang ia rasa penuh pengawasan, Tiar sendiri harus sabar meyakinkan para narasumbernya agar percaya kepadanya dan bercerita tentang apa yang dijalaninya di dalam penjara. Namun, ketika diyakinkan bahwa informasi yang mereka berikan dapat membuat perubahan yang lebih baik, sebagian besar narasumber pun mau membuka diri.

Baca juga: Angkat Peristiwa Petrus di Barutikung Dalam Film, Adit: ‘Kasus Pelanggaran HAM Belum Tuntas’

Dalam proses produksi, Tiar mengaku harus berhati-hati dalam melakukan pengambilan gambar untuk menghindari identifikasi korban. Sementara di post produksi, ia tetap menyamarkan wajah narasumber dengan memberi efek blur. Uniknya ada beberapa narasumber yang justru menginginkan wajahnya tidak disamarkan. Meski sebenarnya itu menguntungkan bagi Tiar untuk meminimalisir efek blur yang memenuhi tampilan framenya, ia memutuskan tetap melakukan penyamaran wajah. Tak sedikit Tiar meminta pertimbangan pihak-pihak yang berkompeten dalam pendampingan korban kekerasan terkait HAM. Termasuk ketika ia memutuskan tidak menyamarkan wajah anak-anak berusia di bawah satu tahun dengan alasan masih sulit teridentifikasi.

Selain karena tidak banyak memiliki anggaran produksi, Tiar memilih penggunaan alat perekam dengan spesifikasi rendah. Menurutnya, ternyata kamera yang tidak layaknya digunakan untuk produksi film layar lebar justru memberikan efek tersendiri menguatkan visual kekelaman cerita. Namun di perjalanan berikutnya, menjawab pertanyaan peserta diskusi Dekase, Tiar dan timnya mendapat kesulitan ketika syarat film yang masuk XXI adalah file film dengan format kualitas gambar 4K atau minimal 2K. Maka Tiar yang mengaku saat itu belum banyak pengalaman dalam perfilman layar lebar, harus memproses file filmnya untuk ditingkatkan kualitas gambarnya.

Sebenarnya Invisible Hopes tidak direncanakan untuk tayang di layar XXI. Awalnya Tiar berencana memproduksi video-video pendek dalam tema yang sama dan ditayangkan melalui media sosial. Atas dasar pertimbangan melindungi identitas anak-anak kecil dalam film, akhirnya Tiar dan timnya bertekad untuk menaikkannya di layar lebar. Pasalnya patform media sosial dipandang akan meninggalkan jejak digital yang rentan direproduksi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Bagi Tiar, jejak digital ini akan membahayakan psikologi anak-anak dalam film ketika mereka dewasa kelak.

Di akhir diskusi, Ardian Agil Waskito, Komite Film Dekase meminta tip sukses dari Tiar agar bisa dicontoh sineas-sineas muda di Semarang. Tiar pun dengan rendah hati menjawabnya  dengan memberikan semangat bagi para sineas muda untuk yakin jika dengan tekad yang kuat dan rasa percaya diri, bukan mustahil karya-karya para sineas muda dapat menembus layar lebar. Namun Tiar juga berpesan bahwa komersial jangan dijadikan tujuan satu-satunya, namun memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan juga harus menjadi bagiannya. Sementara Ketua Dekase, Adhitia Armitrianto mengaku senang dengan pemaparan kisah inspiratif Tiar dalam memproduksi film dokumenter berkelas layar lebar dengan banyak keterbatasannya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER