BETANEWS.ID, SEMARANG – Meski survei AKSARA Research and Consulting menunjukkan tingginya partisipasi politik anak muda di Kota Semarang sebanyak 78,3 persen berminat memilih dalam Pemilu 2024, namun tinggi pula keengganan anak muda untuk berpolitik praktis.
Dari data AKSARA pula, sebesar 81,7 persen anak muda tidak pernah atau tidak berminat menjadi anggota partai politik. Sementara sejumlah 82,6 persen anak muda, berpartisipasi dalam aktivitas politik di luar pemilu.
Menurut Anggota DPRD Jawa Tengah Fraksi Golkar Padmasari Mestikajati, anak muda lebih menyukai kebebasan dan cenderung merespon isu politik secara spontan.

Baca juga: Hasil Survei AKSARA, Gibran Dijagokan Kalangan Muda Pimpin Jateng
”Generasi Z kadang tidak mau melihat lebih ke dalam, tapi hanya mengambil point-pointnya saja,” ujarnya.
Ini ia maksudkan, melihat begitu banyaknya isu-isu politik yang diviralkan anak muda tanpa mempertimbangkan bobot isunya. Kondisi ini selaras dengan data AKSARA sebesar 47,9 persen aktivitas anak muda yang beraktivitas politik dengan menyampaikan pendapat di media sosial.
Adetya Pramandira, aktivis muda Walhi Semarang mengutarakan keengganan anak muda, terutama dari kalangan aktivis, karena kekecewaan yang mendalam terhadap partai politik. Ia mencontohkan ketidakmampuan tokoh-tokoh politik yang naik dari partai politik merespon isu-isu kerakyatan, terutama lingkungan.
Adetya memaparkan, parahnya kondisi pesisir utara pulau Jawa. Ia menyebut keterlibatan Walhi, LBH Semarang, maupun Koalisi Malih dadi Segoro yang selalu mengkampanyekan isu krisis iklim dan lingkungan di pulau Jawa yang dinilai akan mengalami kehancuran.
Namun, ia menyayangkan para elit politik yang tidak merespon isu-isu lingkungan tersebut. Terlebih di Jawa Tengah yang merupakan kandang partai berlambang kepala banteng yang merupakan representasi lumbung suara partai penguasa, PDI Perjuangan, namun tidak bisa menyelesaikan persoalan lingkungan yeng terjadi di basisnya.
“Padahal di Twitter itu ramai, Demak mau tenggelam, Semarang mau tengelam, yang artinya anak muda sudah berkeluh kesah akan isu itu, tapi tidak ada satupun partai politik yang meresponnya,” ungkapnya.
Baca juga: Ajak Kaesang Masuk PDIP, FX Rudy: ‘Putra Presiden, Jejak Politiknya Jelas’
Meski Adetya sendiri tetap menyadari banyak pula politikus muda yang merupakan orang yang baik, namun ketika masuk ke dalam partai politik, maka konsekuensinya akan menjadi buruk. Adetya mendasarkan pendapatnya, bahwa partai politik saat ini cenderung bercitra buruk, karena tidak ada satupun partai politik yang berani berbicara tentang isu lingkungan.
Hal senada diungkapkan Munif, aktivis muda kelompok studi politik Semarang yang mempertanyakan kehadiran partai politik di persoalan-persoalan masyarakat, seperti pekerja. Ia menuding ide dan gagasan para politikus hanyalah omong kosong, karena tidak mewakili siapapun.
Ia mengkritik para politikus yang berkampanye di media sosial yang tidak selaras dengan isu yang diperdebatkan di parlemen. Ia pun bersikap membenarkan golput, karena menurutnya memilih atau tidak memilih adalah sikap politik.
Editor: Kholistiono

