BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa rumah warga Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, terlihat terendam banjir dengan ketinggian yang berbeda-beda. Ada yang terendam sampai 50 centimeter, bahkan terlihat juga rumah yang terendam sampai setengahnya.
Kondisi tersebut rupanya tak membuat beberapa warga di sana mengungsi. Salah satunya adalah Sri Agustina. Warga RT 3 RW 6 itu memilih bertahan menempati tokonya yang berada di dekat jalan raya.

Namun, keputusannya untuk tidak mengungsi itu rupanya berdampak pada tiadanya bantuan yang ia terima. Ia menyebut, bantuan untuk korban banjir hanya diberikan kepada yang mengungsi.
Baca juga: Waspadai Penyakit Leptospirosis dan Muntaber Kala Banjir
“Kalau rumah saya di belakang mas dan saat ini ketinggian air sekitar setengah meter. Saya tidak mengungsi karena saya tinggal di toko bersama keluarga. Sampai saat ini sih belum ada bantuan,” beber wanita yang akrab disapa Sri kepada Betanews.id, Selasa (3/1/2023).
Hal sama juga dirasakan Dyah Wulandari. Hingga saat ini, ia juga belum mendapatkan bantuan sejak Sabtu (31/12/2022), saat banjir masuk ke dalam pemukiman warga. Meski begitu ia tidak mempersalahkan hal tersebut karena ia masih bisa bekerja sendiri dan rumah yang ditinggali tidak kebanjiran.
“Kalau rumah saya tidak kebanjiran, mas. Hanya saja akses jalannya yang banjir dan motor saya titipkan di kelenteng,” ungkapnya saat ditemui di lokasi banjir.
Warga lain, Dody Susilo menyayangkan karena hingga saat ini warga yang masih tinggal di rumah dan tidak memilih mengungsi belum dapat bantuan sama sekali. Padahal, mereka juga sama-sama terdampak banjir.
Baca juga: Hartopo Gandeng Berbagai Perusahaan untuk Bantu Korban Bencana di Kudus
“Kondisi memprihatinkan, Mas. Bantuan itu boleh lah kalau ditujukan ke pengungsian, tapi seperti kita yang terdampak kalau bisa juga dikasih bantuan. Jangan yang ngungsi saja. Sampai saat ini belum ada bantuan sama sekali. Warga yang rumahnya tidak terendam hingga setengah rumah juga bertahan tapi sampai saat ini tidak ada bantuan,” tuturnya.
Alasan ia tak mengungsi, kata Dody, karena ia dan warga yang masih bertahan tidak nyaman tidur di pengungsian.
“Kalau di pengungsian itu ada enaknya ada tidaknya, enaknya itu kumpul bareng-bareng, dan tidak enaknya itu makan ada aturannya. Jadi kita tidak nyamannya di situ,” tambahnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

