BETANEWS.ID, KUDUS – Setiap kesuksesan orang, masing-masing memiliki cerita yang berbeda. Seperti halnya dengan cerita Muklis Winarno (43) yang dulu pernah bekerja di perusahaan rokok. Saat dirinya mau diangkat menjadi karyawan tetap, ia malah memilih untuk resign dan merintis usaha sendiri.
Padahal, tak sedikit orang mendambakan bisa bekerja di perusahaan tersebut, apalagi bisa bisa diangkat sebagai karyawan tetap. Mulai dari gaji, tunjangan, fasilitas kesehatan, dan lain sebagainya bisa didapatkan setiap karyawan tetap.
Berbeda dengan pria yang akrab disapa Winarno, yang saat itu lebih memilih keluar, ketimbang menjadi pekerja yang memiliki segudang fasilitas. Bahkan menurutnya, keluarganya pada saat itu sangat kecewa dengan keputusan yang ia ambil.
Baca juga: Serabi Eco, Teksturnya Lembut dan Perpaduan Rasa Manis dan Gurihnya Bikin Nagih
Winarno mengatakan, saat itu ada dua pertimbangan yang membuat ia tak mau menjadi pekerja. Pertama ia lebih memprioritaskan kegiatan mengaji untuk keberkahan hidupnya dan yang kedua ia ingin lebih bebas dan tidak diatur oleh orang dalam hal mencari rezeki.
“Dulu memang saya lebih utamakan untuk mengaji ya mas, untuk keberkahan hidup dan patuh terhadap Tuhan. Kalau saya bekerja ikut orang kan waktu mengaji tidak istiqomah. Bahkan, saya juga pernah ikut bekerja orang di home industri pasca-keluar dari perusahaan. Berangkat bekerja itu dua hari saja, antara Senin dan Selasa, sisanya tak buat untuk mengaji,” beber Winarno kepada Betanews.id, Rabu (11/1/2023).
Setelah keluar, kata Winarno, ia memulai bisnis kecil-kecilan dari berjualan jus, bekerja di seni ukir, jualan kue Bandung mini, dan terakhir jualan serabi khas Solo yang ia beri nama Serabi Eco.
Ia menjelaskan, ia tertarik berjualan serabi, karena menurutnya pada saat itu belum banyak yang jualan serabi di Kota Kretek. Selain itu, perkembangan usaha serabi menurutnya sangat cepat dan peminatnya yang cukup luas.
“Tertarik makanan daerah ini (serabi), karena perkembangannya bagus, peminatnya juga luas. Pertama berjualan, saya terinspirasi salah satu brand terkenal, yaitu Serabi Notosuman yang memiliki cabang di berbagai daerah,” terang lapak yang dikaruniai dua orang anak tersebut.
“Kemudian pada saat itu, makanan serabi ini sedang booming dan menjadi jujugan. Akhirnya saya pun memutuskan untuk memberanikan diri, berjualan serabi ini yang tidak saya ketahui resep pembuatannya. Ada seseorang waktu itu yang memberi tahu bahan untuk membuat serabi, tapi untuk resepnya tidak,” tuturnya.
Warga Kelurahan Melati Kidul RT 5 RW 1, Kecamatan Kota, Kudus itu pun mencoba membuat resep sendiri dengan bahan yang sudah diberikan kepadanya. Bahan-bahan itu meliputi, tepung beras, gula, dan santan. Namun pertama kali membuat serabi itu tak bisa seperti serabi lain.
Baca juga: Enaknya Serabi Kuah dan Dawet Durian di Emak_Id yang Bikin Emak-Emak Berasa Nostalgia Masa Kecilnya
“Itu saya butuh ratusan percobaan agar bisa memaksimalkan serabinya dari segi rasa, tekstur, dan tidak lengket di wajan. Supaya semua komposisinya itu bisa maksimal. Alhamdulillah saat ini sudah banyak yang minat dengan serabi yang saya buat ini,” ungkapnya.
Ia menambahkan, setidaknya dalam sehari, saat ini ia bisa menjual 300 hingga 400 serabi. Total itu dari penjualannya, di outlet maupun pesanan dari pelanggan yang sudah mempercayakannya.
“Untuk pembeli, saat ini mayoritas dari Kudus ya mas, tapi pelanggan dari Demak dan Pati juga pernah membeli Serabi Eco ini,” tandasnya.
Editor: Kholistiono

