Cerita Kusnan Terjang Banjir 1 Km Tiap Hari Demi Rawat Melon Agar Tak Gagal Panen

BETANEWS.ID, KUDUS – Tiga pria itu tampak berjalan pelan merjang banjir di jalan masuk Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. Derasnya arus seperti tak mengahalangi tekad mereka menyeberang dengan memanggul alat semprot hama.

Bagi mereka, tanaman melon di ladang masih lebih penting daripada duduk berdiam diri di rumah menanti banjir surut. Upaya mereka itu untuk memastikan tanaman melon bisa tumbuh dengan baik dan tahun ini tak gagal panen.

Salah satu dari mereka, Ali Kusnan mengaku baru pulang dari sawahnya yang berada di Jetak, Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu. Tanaman melon di lahan seluas satu hektare itu harus rutin disemprot pestisida agar tak terserang hama.

-Advertisement-

Baca juga: Dukuh Karangturi Terisolasi Banjir, Warga Butuh Bantuan Perahu untuk Transportasi

“Sawah saya di sana tidak kebanjiran dan saya tanami melon. Oleh karenanya, saya harus setiap hari pergi ke sawah untuk merawat melon yang saya tanam. Jika panen bisa menghasilkan kurang lebih Rp150 juta,” bebernya saat ditemui, Selasa (3/1/2023).

Kusnan menuturkan, berangkat ke sawah selepas azan subuh dan harus menerjang banjir sepanjang satu kilometer dengan kedalaman kurang lebih satu meter. Sesampai di Jalan Lingkar, ia baru menggunakan sepeda motor untuk menuju sawahnya.

“Begitu juga ketika pulang dari sawah. Saya juga harus menerjang banjir yang sama,” ungkap warga Dukuh Karangturi RT 3 RW 3 tersebut.

Disinggung terkait kebutuhan perahu untuk warga Dukuh Karangturi, Kusnan mengaku para warga sangat membutuhkan transportasi tersebut. Namun, karena perahu yang ada hanya satu, jadi yang diprioritaskan adalah para buruh pabrik dan anak sekolah.

Baca juga: Warga Tanjungkarang yang Bertahan di Rumah Mengeluh Belum Pernah Dapat Bantuan Banjir

“Sehingga petani seperti saya ini harus mengalah dan jalan kaki terjang banjir. Sudah biasa dan tidak takut, karena sudah langganan tahunan,” ujarnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh buruh tani Dukuh Karangturi yakni Sunarti. Dia menuturkan, tiap hari harus rela menerjang banjir yang mengisolasi kampungnya tersebut. Sebab, ia harus terus bekerja meski hanya jadi buruh tani agar punya penghasilan.

“Setiap hari dua kali harus terjang banjir dengan panjang satu kilometer dan tinggi satu meter. Hal itu saya lakukan karena jalannya terendam dan tak ada perahu,” ujar Sunarti.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER