Tradisi Berbagi Nasi Tomplingan Ajaran Sunan Muria di Festival Pager Mangkok

BETANEWS.ID, KUDUS – Ratusan warga Dukuh Piji Wetan, Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kudus mengikuti kirab budaya dalam Festival Pager Mangkok, Jumat (25/11/2022). Dalam kirab itu, warga membawa gunungan berisi hasil bumi, seperti nanas, cabai, petai, dan beragam sayuran.

Selain gunungan, ada pula nasi dibungkus daun pisang dan nasi tomplingan atau nasi mangkok. Nasi itu dibawa oleh seluruh warga Piji Wetan untuk disedekahkan kepada sesama.

Koordinator Kampung Budaya Piji Wetan Muchammad Zaini mengatakan, nasi tomplingan tersebut merupakan implementasi dari Pager Mangkok yang berarti bersedakah. Ini merupakan bentuk penghormatan dan nguri-uri ajaran Sunan Muria yang secara filosofis mengajarkan untuk bersedekah dan peduli dengan tetangga.

-Advertisement-

Baca juga: Lestarikan Punden dan Belik di Muria, Kampung Budaya Piji Wetan Bakal Dirikan Museum Folklor

“Kalau dulu kita pakai mangkuk, ini kita implementasikan dalam Pager Mangkok. Isinya nasi, lauk pauk sederhana, seperti mii, sambal goreng, tahu, dan tempe. Jadi nasi tomplingan ini dibawa seluruh warga dan mereka per keluarga membawa satu lebihan nasi untuk disedekahkan,” katanya.

Pria yang akrab disapa Jessy itu melanjutkan, Festival Pager Mangkok akan berlangsung selama tiga hari mulai Jumat-Minggu (25-27/11/2022). Selain kirab budaya, nantinya ada pameran seni kaligrafi, art print, lukisan, dan instalasi. Lalu, ada pameran UMKM dan penanaman pohon di puncak acara pada hari Minggu.

“Ada juga kelas kemajuan kebudayaan, pameran seni rupa, pameran UMKM, pertunjukan seni, serta tour guide/tour leader, yang ada di Kudus,” tuturnya.

Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Desa, Lilik Ngesti W mengapresiasi adanya kegiatan Festival Pager Mangkok. Menurutnya, festival tersebut menjadi angin segar bagi desa lain untuk nguri-nguri dan mengembangkan budaya di daerahnya.

Baca juga: Melihat Tradisi Suran yang Digelar Penghayat Wringin Seto di Blora

“Festival ini tentunya menjadi jadi angin segar bagi kami agar desa lain juga bersemangat mengembangkan budayanya lebih adaptif, dikembangkan dan dilestarikan sesuai potensinya,” ungkapnya.

Lilik menyebut, saat ini banyak budaya yang mulai tergerus oleh zaman. Karenanya, ia mendukung dan mendampingi desa budaya seperti Piji Wetan yang memiliki potensi untuk dikembangkan.

“Banyak kebudayaan yang tergerus, ini tentu perlu dilestarikan dikembangkan menjadi lebih adaptif, mempunyai kemandirian, dan kemampuan mengembangkan potensinya,” tandasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER