31 C
Kudus
Selasa, Desember 6, 2022
BerandaKISAHTak Kapok Rintis...

Tak Kapok Rintis Usaha Kuliner Meski Pernah Gagal, Hilmi Kini Temukan Hoki dengan Jualan Kue Apang

BETANEWS.ID, KUDUS – Pagi itu, Ziyad Hilmi tampak sibuk melayani pelanggan yang datang silih berganti di lapak Kue Apang Bugis di Jalan Pangeran Puger, Kelurahan Demaan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Jika karyawannya bertugas mengukus dan mengeluarkan Kue Apang dari cetakan, dirinya kebagian membungkus kue.

Kue Apang yang telah dikeluarkan dari cetakan, kemudian dikemas dengan plastik mika. Tidak lupa, di atas Kue Apang diberi taburan kelapa parut kukus sebagai pendamping kudapan tradisional khas Suku Bugis, Makassar itu. Setelah siap, Kue Apang diberikan kepada pelanggan yang menunggu.

Ziyad Hilmi saat menjajakan Kue Apang di pinggir jalan. Foto: Erna Safitri.

Baca juga: Dipecat Karena Pandemi, Buyung Justru Dapat Berkah dari Berjualan Kue Gandos

- Ads Banner -

Di sela-sela aktivitasnya, laki-laki yang akrab disapa Hilmi itu menjelaskan usaha kue Apang yang dirintis sejak awal Oktober 2022 itu. Alasannya berjualan kue asal Makasar itu, karena belum banyak yang menjual kue tersebut sehingga dipastikan belum banyak pesaing.

Menurut Hilmi, Kue Apang ini pertama kali dikenalkan oleh saudaranya yang berada di Makassar. Ketika pulang kampung, ia kerap dibawakan oleh-oleh berupa Kue Apang. Dari situ, ia mengenal sekaligus tahu bagaimana rasa Kue Apang.

“Saya asalnya dari Kudus, tahu Kue Apang dari saudara yang bawakan oleh-oleh dari Makasar saat pulang. Kalau jualan ini karena di Kudus dan di Jawa Tengah belum ada, pesaingnya juga belum banyak,” tuturnya, Minggu (20/11/2022).

Sedangkan untuk resep membuat Kue Apang, didapatkan Hilmi dari referensi YouTube. Selain itu, ia belajar dengan sang Kakak yang merupakan guru tata boga di Kudus. Lalu ia memodifikasi rasa dari Kue Apang dengan selera masyarakat Kudus.

“Belajar dari YouTube dan kakak yang guru tata boga, rasanya tentu disesuaikan dengan orang sini, seperti aslinya sangat manis saya kurangi manisnya. Pernah juga bikin tidak mengembang alias bantet karena salah takaran,” ungkapnya.

Hilmi mengaku, sebelumnya ia bekerja sebagai sales marketing di salah satu perusahaan makanan di Kudus. Setelah empat tahun bekerja ia mengundurkan diri dan mengelola usaha orang tua. Pada awal tahun 2022, Hilmi juga sempat berjualan nasi goreng babat Semarang. Namun usaha itu hanya bertahan satu bulan, karena lokasi yang kurang strategis.

“Kalau usaha kuliner bukan yang pertama, dulu semasa kuliah sempat jualan Angkringan juga, prospek bagus. Tapi karena orang tua menyuruh fokus kuliah, jadi tidak dilanjutkan. Lalu awal tahun ini sempat jualan nasi goreng, cuma kurang tepat lokasinya jadi sepi dan tutup,” bebernya.

Baca juga: Berhenti jadi Guru dan Pilih Jualan Kue Gandos, Omzet Heru Bisa Rp 1 Juta Sehari

Dari pengalaman tersebut, Hilmi sangat memperhatikan betul lokasi tempatnya usaha. Lokasi saat ini, dipilih Hilmi karena daerah Jalan Pangeran Puger ramai oleh pengendara yang melintas, namun bukan jalur cepat. Selain itu, lokasinya tidak jauh dari rumahnya yang berada di Demaan pula.

Hilmi menyebut, seminggu pertama buka banyak pengendara yang mampir karena penasaran dengan Kue Apang Bugis yang jarang dijumpai. Setelahnya, banyak yang repeat order, bahkan memesan untuk acara arisan, pengajian dan lainnya.

“Paling ramai Jumat-Minggu, kalau ramai bisa 50 porsi lebih, sekitar 10 kg. Kalau hari biasa rata-rata 200 biji Kue Apang atau 40 porsi. Kadang juga ada yang ngambil untuk dijual lagi,” tandas bapak satu anak itu.

Editor: Kholistiono

Erna Safitri
Erna Safitri
Erna Safitri adalah reporter Beta News yang bergabung pada 2022. Pernah menempuh pendidikan di IAIN Kudus Jurusan Komunikasi.

LIPSUS 15 - Ketoprak Pati Pantang Mati

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

33,301FansSuka
15,628PengikutMengikuti
4,337PengikutMengikuti
97,028PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler