31 C
Kudus
Selasa, Desember 6, 2022
BerandaSOLOSejarah Studio Musik...

Sejarah Studio Musik Lokananta, Tempat Merekam Lagu Indonesia Raya Setelah Kemerdekaan

BETANEWS.ID, SOLO – Berbicara soal dunia permusikan di Tanah Air, tidak akan bisa lepas dari salah satu studio musik legendaris di Indonesia, yakni Lokananta. Hingga saat ini, studio yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Laweyan, Solo tersebut masih aktif memproduksi musik.

Marketing Lokananta, Anggit Wicaksono menjelaskan, Lokananta didirikan oleh Kepala Jawatan Radio Republik Indonesia (RRI), Raden Maladi bersama Oetojo Soemowidjojo dan Ngabehi Soegoto Soerjodipoero pada 29 Oktober 1956

Awalnya, Lokananta merupakan sebuah pabrik piringan hitam yang tujuannya untuk mensuplai materi siaran RRI pada saat itu. kemudian, pada sekitar tahun 1959-1960, Lokananta mulai memproduksi piringan hitam untuk masyarakat umum dan menjadi label rekaman.

- Ads Banner -

Baca juga: Lokananta, Studio Musik Tertua di Indonesia Siap Jadi Destinasi Wisata Baru di Solo

Berbagai arsip audio bersejarah yang lahir di Lokananta hingga saat ini juga masih terawat dan disimpan dengan rapi. Bahkan alat yang digunakan untuk memproduksi masih bisa digunakan.

“Master-master rekaman yang dari 1956 dan kebanyakan itu lagu-lagu daerah dari seluruh Indonesia itu masih tersimpan. Terus masternya itu berupa pita real, terus ada beberapa kayak piringan hitam dan mesin-mesin yang pernah digunakan pada mesin-mesin untuk rekaman untuk penggandaan kaset,” bebernya saat ditemui, Sabtu (12/11/2022).

Lokananta dulunya berfokus pada rekaman audio kesenian-kesenian tradisional dan lagu-lagu daerah. Oleh karena itu, Lokananta didesain dengan ukuran yang cukup luas dan dapat digunakan untuk melakukan perekaman musik gamelan. Bahkan Lokananta merupakan studio terluas se-Indonesia yang dibangun pada 1985.

“Lokananta sendiri itu namanya diambil dari cerita pewayangan Jawa. Dari kata ‘Lokananta’ yang artinya seperangkat gamelan dari kayangan yang dapat berbunyi sendiri dengan merdu itu,” tutur Anggit.

Baca juga: Menteri Basuki Akan Buat Taman Balekambang Mirip TMII Jakarta, Ini Deretan Wahananya

Pada 5 Agustus 1962, Lokananta juga memproduksi empat album kompilasi untuk dijadikan souvenir dari Indonesia dengan tajuk Asian Games Souvenir From Indonesia yang berisi lagu-lagu daerah dari seluruh Indonesia.

Kemudian, Lokananta juga berperan dalam perilisan lagu-lagu wajib nasional dan lagu perjuangan di Tanah Air. Seperti lagu Indonesia Raya, Bagimu Negeri, Satu Nusa Satu Bangsa, dan Rayuan Pulau Kelapa.

Tak hanya itu saja, Lokananta juga memproduksi piringan hitam dari musisi-musisi ternama, seperti misalnya Waldjinah, Bing Slamet, Titiek Puspa, Sam Saimun, dan Buby Chen.

“Yang paling memorable ada Pak Gesang dengan lagu Bengawan Solo, terus ada juga lagu Indonesia Raya yang rekaman resmi pertama pascakemerdekaan yang dicetak di piringan hitam dan kaset,” katanya.

Seiring dengan perkembangan zaman, Lokananta kemudian mengalami era transformasi dari yang mulanya piringan hitam kemudian berpindah ke kaset pada 1972. Kemudian pada saat era kaset sudah mulai ditinggalkan, Lokananta memproduksi dalam bentuk compact disk (CD) dan saat ini mengikuti era digital.

“Begitu kaset sudah mulai ditinggalkan, Lokananta mulai memproduksi CD sampai akhirnya di tahun 2016 sudah mendistribusikan lagu-lagunya pada platform streaming jadi ada beberapa album yang ada di joox, spotify, deezer, dan YouTube,” ujarnya.

Sederet nama musisi terkenal di Indonesia saat ini juga tercatat pernah melakukan rekaman dan mencetak album di Lokananta. Misalnya seperti Slank, Gigi, dan mendiang Glenn Fredly.

Baca juga: Megahnya Masjid Syeikh Zayed Solo, Salah Satu yang Terindah di Indonesia

Hingga saat ini, terdapat 53 ribu keping piringan hitam yang tersimpan di Lokananta. Dokumen audio dan alat-alat yang digunakan dalam dapur rekaman disimpan dan dapat dilihat di museum Lokananta.

“Museum mulai dibuka itu sekitar dari 2008-2009. Sebelumnya sudah ada kunjungan namun belum terorganisir jadi masyarakat umum boleh kunjungan ke Lokananta hanya ditemani satpam, belum tour guide. Mulai ada tour guide itu di sekitar 2012 ke 2014,” katanya.

Agar tidak tertelan zaman, Lokananta sekarang ini telah dilakukan proses revitalisasi. Anggit menerangkan, lokananta akan dibangung dan dikembalikan ke fungsi awalnya, namun lebih modern.

“Gambarnya nanti akan berdiri sendiri sebagai PT Lokananta. Harapannya menjadi kreatif Space jadi kayak semacam ruang pertunjukan untuk seniman-seminan Solo khususnya kan museum tetap buka tapi dengan display yang lebih bagus daripada sebelumnya,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

LIPSUS 15 - Ketoprak Pati Pantang Mati

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

33,301FansSuka
15,628PengikutMengikuti
4,337PengikutMengikuti
97,028PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler