BETANEWS.ID, JEPARA – Sri Hayati (61) terlihat sedang menata beberapa roti yang yang ada di etalase toko Nita Sari Cake & Bakery miliknya di alan Raya Jepara-Kudus, Desa Purwogondo RT 13 RW 3, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara. Sesekali, ia menghampiri meja kasir untuk membantu karyawannya melayani pembeli yang datang silih berganti sedari pagi hingga sore itu.
Di tengah ramainya toko, wanita yangakrab disapa Sri itu bersedia berbagi cerita kepada Betanews.id soal usaha yang dirintis pada 1995 itu. Toko itu merupakan salah satu upayanya untuk punya penghasilan tambahan demi melihat anaknya tumbuh besar dengan baik dan bisa sekolah setinggi mungkin.

“Sebetulnya ini karena pengen cari sampingan. Dulu sering di sekolah ada rapat bingung pesan snack rapat pagi di mana, akhirnya iseng buat sendiri aja. Mulai dari situ bikin untuk disetorkan ke pasar-pasar,” beber pensiunan guru Sekolah Dasar (SD) itu, Rabu (12/10/2022).
Baca juga: Nita Sari Cake & Bakery, Tempat Cari Roti Enak dengan Harga Terjangkau di Jepara
Sri menyebut, selain kebutuhan anak yang semakin banyak, dirinya juga ingin membantu sang suami yang saat itu bekerja serabutan. Ia menyetorkan roti-roti biayanya ke bakul di Pasar Kalinyamat dan Pasar Pecangaan.
Keahliannya membuat kue dan roti ia pelajari dari buku resep. Selain itu, ia juga sering mengikuti kursus tata boga di Kudus, hingga mengikuti demo masak di salah satu hotel di Semarang.
“Ilmu bikin roti ini dari belajar di buku resep. Dulu ayah saya suka membelikan buru resep. Kemudian bikin dari yang sederhana sampai bisa bermacam-macam,” tuturnya.
Di tahun 2016, Sri bersama sang suami memutuskan membuka toko roti dengan nama sang anak yaitu Nita Sari Cake & Bakery. Namun, selama enam bulan pertama tokonya itu tidak laku. Bahkan, setiap hari, sepulang mengajar Sri membawa roti jualannya ke pasar untuk ditukarkan dengan sayuran dan kebutuhan lain agar bisa bertahan hidup.
Ia bahkan sempat ingin berganti usaha dari bakery menjadi usaha nasi ayam, karena merasa tidak bisa melanjutkan dan uangnya habis untuk modal.
“Tahun 2016, saya buka toko ini. Saya bikin roti siang sampai malam, pas ngajar suami jaga di toko. Tidak laku sama sekali, uang habis, uang tidak berputar. Roti di toko saya tukar dengan sayur dan makanan untuk bertahan hidup,” ungkap Sri sambil berkaca-kaca.
Baca juga: Cerita Owner Wingko Babat Pak Lis, Awalnya Hanya Berjualan Keliling dengan Sepeda
Berkat kesabaran dan ketekunannya, kini usahanya bersama suami semakin berkembang dan memiliki banyak pelanggan. Saat ini ia memiliki 17 karyawan yang membantunya mengerjakan pesanan roti.
Meski tak mudah, bagi Sri usahanya itu bukan tentang bisnis semata. Ia ingin usahanya bisa memberikan banyak manfaat dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Karyawan yang ikut dengannya bisa mengambil ilmu dan mendirikan usaha mereka sendiri untuk melanjutkan hidup.
“Harapannya tentu bisa diteruskan anak cucu, dan terus berlanjut. Bisa memberikan pekerjaan, bermanfaat dan karyawannya bisa mengambil ilmu untuk mereka gunakan,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

