Explore Desa Ketitang Wetan, Penghasil Garam di Kabupaten Pati

0

Kabupaten Pati sejak lama telah dikenal sebagai penghasil ikan bandeng. Namun, ternyata kabupaten yang memiliki slogan Bumi Mina Tani ini juga menjadi daerah penghasil garam. Bahkan, produk garam asal Pati telah dipasarkan ke banyak daerah lain di Indonesia.

Desa Ketitang Wetan, Kecamatan Batangan, adalah satu desa penghasil garam di Pati. Bahkan, lebih dari 50 persen warganya menggantungkan hidup dari membuat garam. Mereka membuat garam di tambak-tambak yang lokasinya berdekatan dengan pantai.

Tim Beta Explore datang ke Desa Ketitang Wetan untuk melihat proses pembuatan garam, dari awal hingga menjadi produk jadi. Tim Beta Explore bertemu dengan Kepala Desa Ketitang Wetan, Ali Muntoha, yang juga menjadi petani garam, di tambak garam miliknya.

Banner Ads

Dia menjelaskan, para petani garam di desanya membuat garam pada musim kemarau, atau mulai Juli hingga Desember. Saat musim hujan tiba, tambak-tambak garam milik petani dijadikan tambak ikan bandeng.

Proses memanen garam di Desa Ketitang Wetan, Kecamatan Batangan, Kabupaten Kudus. Foto: Rabu Sipan

Baca juga: Beginilah Proses Pembuatan Garam Beryodium di Pabrik UD Talenta Raya Pati

“Biasanya kalau musim hujan, bulan Januari hingga Juni tambak-tambak di sini diisi ikan bandeng. Masuk bulan Juli biasanya baru mulai pembuatan garam,” ujar Muntoha kepada Tim Beta Explore, beberapa waktu lalu.

Proses pembuatan garam, kata Muntoha, tak sesederhana mengeringkan air laut kemudian menjadi garam. Ada tahapan-tahapan tertentu yang dilakukan petani garam, hingga gram padat bisa dipanen. Yang paling awal, para petani menyiapkan lahan terlebih dahulu, sebelum memasukkan air laut ke dalam tambak.

“Lahannya disiapkan dulu, dipadatkan menggunakan alat. Ini dilakukan agar ketika garam dipanen, tidak tercampur dengan lumpur,” katanya.

Karen lokasi pertanian garam berjarak cukup jauh dari laut, katanya, mereka mengalirkan air laut melalui sungai kemudian dipompa dimasukan tambak yang sudah dipetak-petakkan. Setiap hari air tersebut dipindah dari petak satu ke petak yang lain.

“Biasanya hingga 6 kali pemindahan baru kadar garamnya bisa mencapai 21 hingga 23. Itu membutuhkan waktu sekitar tiga hingga lima hari sesuai kadar garam pada air yang masuk. Kalau air baru masuk dari sungai itu kadar garamnya rata-rata 5,” terang Toha.

Ali Muntoha, Kepala Desa Ketitang Wetan, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati. Foto: Rabu Sipan

Baca juga: Petani Garam di Pati Diminta Tak Hanya Jual Garam Dalam Bentuk Bahan Baku Saja

Saat ini Toha juga sudah mulai mengajarkan petani garam di desanya untuk menggunakan kincir angin. Menurutnya, hal itu lebih mempermudah para petani dalam mengalirkan air dari satu petak ke petak yang lain.

“Dengan kincir air ini petani bisa menghemat waktu dan tenaga. Kalau mengalirkan secara manual bisa sekitar dua jam satu petaknya,” ungkapnya.

Untuk satu kali panen, ungkap Toha, petani bisa memperoleh garam sekitar 5 kwintal untuk satu petak tambak. Namun, ketika puncak kemarau, petani bisa panen hingga 1 ton perpetak.

Toha menambahkan, desanya ada 900 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sebanyak 2.100 jiwa. Separuh lebih penduduk di Desa ketitang Wetan merupakan petani garam, sisanya ada yang menjadi pegawai swasta dan karyawan pabrik.

Editor: Suwoko

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini