31 C
Kudus
Minggu, November 27, 2022
BerandaPertanianBeras Srinuk Asal...

Beras Srinuk Asal Klaten Ini Punya Masa Tanam Pendek dan Kualitas Lebih Baik dari Rojolele

BETANEWS.ID, KLATEN – Beras Srinuk hasil budi daya Pemkab Klaten dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) kini namanya makin moncer karena punya berbagai keunggulan. Varietas hasil rekayasa dari beras rojolele itu punya umur lebih pendek, tanaman lebih pendek, dan beberapa kelebihan lain.

Petani beras Srinuk Harjono menjelaskan, dulu Rojolele itu memiliki umur sampai lima bulan, sekarang Srinuk hanya sekitar 110 hari atau sekitar tiga bulan lebih. Tidak hanya itu, keduanya memiliki perbedaan lain, seperti tanaman Rojolele yang lebih tinggi daripada Srinuk. Kondisi itu membuat Rojolele lebih berpotensi dimakan burung dan kena angin. Sedangkan Srinuk bisa lebih aman karena pendek sehingga aman dari burung dan tidak roboh.

Petani Klaten menatan beras srinuk siap konsumsi untuk dikirim ke pembeli. . Foto: Ist

“Kalau kualitas rasanya lebih enak Rojolelenya daripada Srinuk hanya kualitasnya turun dikit,” terang Desa Kepanjen, Kecamatan Delanggu, Klaten itu, Rabu (5/10/2022).

- Ads Banner -

Baca juga: Srinuk, Beras Unggulan Jateng Pengganti Raja Lele yang Rasanya Top Markotop

Selain itu, lanjut dia, Srinuk juga wangi dan tingkat pulennya hampir sama dengan Rojolele, serta bulir padinya bulat namun agak pendek dibanding Rojolele. Petani Klaten juga lebih untung menanam Srinuk. Jika panen Srinuk, petani seperti dirinya bisa meraup pendapatan Rp6 juta per hektare, sedangkan varietas lain, pendapatanya sekitar Rp5 juta per hektare.

Kabid Litbang Bappedalitbang Kabupaten Klaten Muhammad Umar Said mengatakan, penelitian bersama BATAN itu berawal dari keprihatinan beras asal Klaten, Rojolele, yang tidak banyak ditanam petani karena masa tanamnya panjang yaitu hampir enam bulan. Padahal, padi jenis lain 3-4 bulan saja sudah bia panen.

“Sehingga petani malas. di antaranya (tidak banyak nanam Rojolele) mudah roboh diserang angin dan burung sehingga sangat tidak worh it (layak) untuk petani, itu (Rojolele) sudah mau ditinggalkan,” kata dia.

Baca juga: Petani Delanggu Kembangkan Varietas Padi Rojolele yang Bisa Panen Hanya 3,5 Bulan

Menurutnya, proses penelitian dimulai dari 2013  ke kantor BATAN di Jakarta. Dimulai uji lab, sampai 2016 riset skala lab selesai. Dilanjut dengan uji tanam di Desa Gempol Karanganom Klaten. Baru 2019, akhirnya pemkab yakin ada tiga varietas yang layak diusulkan ke Kementerian Pertanian. Umurnya juga pendek sekitar 110 sampai 115 hari, batang juga lebih pendek namun rasa, pulen, wangi, dan lebih tahan hama daripada Rojolele lama.

“Kita namai Rojolele Srinuk, Rojolele Srinar, dan Rojolele Sriten. Srinar itu dari kata ‘Dewi Sri Dewi Padi dan ‘Nar’ itu bersinar. Srinuk itu Dewi Sri Dewi Padi dengan ‘nuk’ itu enak banget atau inuk. Inuk sendiri inovasi nuklir Klaten, Sriten itu Dewi Sri Klaten tapi waktu sidang pelepasan di Kementerian Pertanian itu Sriten dan Srinuk kecenderungannya agak mirip. Jadi yang diloloskan harus salah satu. Yang diloloskan itu bukan jelek kualitasnya dan identik dengan Srinuk,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

Ahmad Muhlisin
Ahmad Muhlisinhttps://betanews.id
Jurnalis Beta Media yang sebelumnya telah lama menjadi reporter dan editor di sejumlah media.

LIPSUS 15 - Ketoprak Pati Pantang Mati

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

33,301FansSuka
15,628PengikutMengikuti
4,335PengikutMengikuti
97,028PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler