BETANEWS.ID, KUDUS – Gajah purba yang memiliki nama latin Stegodon Trigonocephalus menjadi koleksi terbanyak Museum Purbakala Patiayam di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Saat ini, sudah ada 91 koleksi yang ditampilkan dalam etalase museum.
Koordinator Petugas Museum Purbakala Patiayam Jamin menjelaskan, usia fosil gajah itu beragam antara 700 sampai 1,5 juta tahun. Tidak hanya itu, jenis gajah purba elephantidae yang jadi nenek moyang gajah Asia juga ada di museum.
“Kalau yang khusus kita koleksi dari 12 etalase, jika dirinci per item ada sekitar 91 koleksi dari mewakili 17 spesies hewan. Di Patiayam kebetulan ada dua spesies gajah yaitu Stegodon Trigonosipalus dan ada juga turunannya yaitu elephantidae, nenek moyangnya gajah Asia usia 700-1,5 juta yang lalu,” katanya pada betanews.id, Kamis (6/10/2022).
Baca juga: Museum Patiayam Targetkan Bisa Naik Kelas Jadi Tipe B pada Awal 2023
Menurut Jamin, keistimewaan temuan fosil di Situs Patiayam adalah kondisi tubuh yang ditemukan mencapai 80 persen. Ini sangat berbeda dengan Sangiran, Semedo, bahkan Banyurejo yang tak sampai angka itu.
“Yang menjadi spesial di Patiayam itu gajah hampir 80-90% utuh ditemukan dalam satu titik koordinat, dari mulai kaki sampai gading, anggota-anggota badan gajah. Berbeda dengan Sangiran, Semedo, dan Banyurejo fragmennya itu terbawa arus lava minimal radius 5-10 meter,” imbuhnya.
Jamin juga menerangkan, alasan Patiayam menjadi tempat gajah purba itu berada karena perubahan faktor alam yang pernah terjadi di Pulau Muria dan pulau Patiayam menyebabkan terjadinya siklus dari laut menjadi rawa, sehingga menyebabkan terbentuknya hutan rawa yang menjadi tempat migrasi gajah dari Afrika ke Jawa.
Baca juga: Koleksi Museum Patiayam Sudah Capai 9.346 Fragmen Fosil, Termasuk Manusia Purba
“Kalau melihat dari siklus alam yang berada di siklus Patiayam, itu berbeda dengan di Sangiran. Kebetulan di Sangiran itu ada Bengawan Solo, yang bisa dicerna adalah manusia lebih senang bertahan di gua daripada di sungai. Sedangkan di Patiayam perubahan dari laut menjadi rawa, itu menjadi hutan basah sehingga hewan-hewan purba termasuk gajah migran di Patiayam dari Afrika ke Jawa,” terangnya.
Selain gajah, di Museum Purbakala Patiayam memiliki banyak koleksi temuan fosil spesies darat seperti binatang bovidae, karnivora, dan moluska.
“Kebetulan yang menjadi dominan itu spesies yang darat, termasuk gajah Stegodon Trigonosipalus itu menjadi primadona. Selain itu ada Bovidae mulai dari banteng, kerbau, sapi, badak, termasuk kambing purba. Itu termasuk kelompok mamalia. Setelah itu dikelompokkan lagi jenis hewan karnivora itu semacam macan, kucing, dan yang pemakan daging. Itu yang kita koleksi dari spesies darat. Yang rawa, itu ada moluska-moluska rawa termasuk ada buaya. Terus juga ada laut itu ada predator hiu hitam dan hiu putih. Itu juga juta temukan,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

