BETANEWS.ID, KUDUS – Khambali (52) terlihat sedang melubangi papan kayu yang telah diberi gambar motif ukir kudusan. Ia menggeser papan kayu itu searah dengan bentuk motif yang tergambar di kertas putih. Papan kayu yang dikerjakannya itu merupakan bagian kecil dari gebyok yang akan dibuatnya.
Di tempat lain, terdapat beberapa papan kayu yang sudah selesai diukir. Terlihat motif yang timbul berupa bunga melati, pot bunga, dan lung-lungan. Meski belum dilakukan finishing, ukiran tersebut tampak cantik dan bernilai seni tinggi.

Khambali mengatakan, awalnya ia tak sengaja terjun ke usaha mebel dan gebyok ukir. Berangkat dari teman yang meminta saran desain kepadanya, dilanjut dengan proyek bersama berupa kerajinan nama dari kayu hingga sampai pada mebel dan ukir.
Baca juga: Gebyok Ukir Kudusan Karya Khambali yang Pelanggannya Sampai Luar Negeri
“Awalnya tidak sengaja, di tahun 2000 saya bertemu teman yang minta saran untuk desain lalu ada proyek bareng dengan bahan kayu berupa kerajinan. Sampai di tahun 2003 berkembang ke ukir dan mebel itu juga tidak sengaja,” bebernya, Rabu (31/8/2022).
Sebelum memutuskan usaha mebel, dirinya menekuni pekerjaan sebagai pelukis. Profesi itu ia jalan sejak lulus kuliah dengan mengerjakan proyek lukisan wayang dan lukisan foto selama lima tahun. Salah satu karya lukisnya bahkan sempat ikut pameran di pekan nasional.
Setelah kembali ke Kudus 1997 silam, dirinya tetap menjadi pelukis namun kebanyakan lukisan untuk foto. Dari situ ia bertemu banyak teman dan relasi yang mengajaknya untuk berpindah ke kerajinan kayu hingga mebel dan ukir.
“Dari kerajinan kayu itu, ada teman yang kebetulan tahu saya bisa gambar, desain akhirnya diberi kerjaan lagi untuk bikin dekor gebyok untung acara dekorasi nikahan yang trend saat itu. Dari situ merambah ke mebel lain hingga saat ini,” bebernya.
Menurutnya, seni erat kaitannya dengan selera seseorang. Maka dari itu, penikmat karyanya adalah orang-orang tertentu yang tahu dari mulut ke mulut. Khambali bahkan tak memiliki akun media sosial untuk promosi, karena proyeknya didapat dari relasi dan kawan yang tertarik dengan karyanya.
Ia juga menambahkan, karena pengerjaan seni tak bisa ditarget, tak jarang sebelum satu proyek selesai, sudah banyak pelanggan yang menunggu untuk memakai jasanya. Dalam pengejaran setiap karya ukirnya, ia selalu memaksimalkan kemampuan terbaik agar hasil akhirnya memuaskan.
“Kita memang semua dari pesanan custom, bukan yang diproduksi massal. Ini saja kadang ada yang dipending, karena pengerjaan paling cepat itu mebel polosan paling seminggu, kalau gebyok bisa berbulan-bulan,” bebernya
Kesulitan dalam membangun usaha ini, menurut Khambali adalah merekrut pekerja. Pekerjaan yang butuh kesabaran dan ketelitian sangat sulit ditemui. Tak heran hal tersebut membuatnya mengurus usaha secara mandiri.
Berkat kegigihannya, kini usaha mebel dan gebyok ukir sudah dikenal di berbagai wilayah di antaranya Kudus, Semarang, Magelang, Bali, bahkan Tahiland dan Jepang.
“Untuk gembyok pernah dapat proyek 20 meter harganya dulu kisaran Rp235 juta, beberapa proyek lain dapat untuk kebutuhan hotel. Pelanggannya ada dari Kudus sendiri, Magelang, Bali, sempat Jepang itu peti jenazah yang ukirnya bentuk candi Borobudur dengan detail corak,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

