BETANEWS.ID, KUDUS – Menjelang sore, Marta (33) masih sibuk menata bunga-bunga dalam boks hantaran. Sambil merangkai hantaran, ia bersedia berbincang-bincang dengan betanews.id soal usaha Raja Seserahan yang dirintis sejak 2016 lalu itu.
Sebelum punya usaha tersebut, Marta bekerja sebagai marketing di perusahaan asing asal Denmark. Namun, karena tak tega tinggal jauh dari orang tua, ia pun memutuskan keluar dan memilih membangun bisnis di Gang Pendawa Nomor 3, Blolo, Desa Karangampel, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus.

“Dulu merantau di Jakarta setahun jadi marketing di salah satu perusahaan asing asal Denmark, terus balik nikah dan karena orang tua juga,” katanya, Kamis (4/8/2022).
Baca juga: Mahar Akrilik yang Cantik di Raja Seserahan Ini Tembus Pasar Malaysia dan Arab Saudi
Meskipun banyak yang menyayangkan karena dirinya lulusan Magister Bisnis di Internasional Islamic University Malaysia, ia akhirnya membuktikan jika bisnisnya bisa sukses. Kini, Marta bahkan mengaku sering mendapatkan pujian dari pelanggan karena hasil dekorasi maharnya yang modern.
“Nak aku sendiri sih, orangnya tidak masalah. Lagian bisnis juga dimulai tidak langsung besar, meskipun orang tua awalnya eman-eman tapi lama-lama membuktikan,” terangnya.
Sebelum mendirikan Raja Seserahan, lanjut Marta ia belajar kursus terlebih dahulu di Yogyakarta. Bermula merangkai barang-barang menjadi aneka bentuk, Marta kemudian beralih ke dekorasi mahar modern berbahan dasar akrilik, terarium, dan resin.
“Model yang dulu itu banyak dibentuknya seperti bentuk merak, boneka beruang. Nah aku pingin bawa konsep kalau seserahan tidak harus seperti itu, tapi dibentuk modern. Apalagi kalau pas bentuk yang dari bahan sutra kan sayang nanti rusak,” imbuhnya.
Merasa cocok dipasarkan, Marta kemudian mencoba mengunggah hasil karyanya lewat akun sosial media. Dari situ, ternyata banyak yang tertarik hingga kini ia punya pelanggan tidak hanya dari lokal saja, melainkan sampai luar negeri, seperti Arab dan Malaysia.
Baca juga: Rintis Usaha Bakso Aci Sejak SMK, Dyah Kini Sudah Tak Bergantung pada Ortu Lagi
“Awalnya itu aku pakai dari barang-barang sendiri, terus aku post di Instagram dan iklan di beberapa sosial media, terus ada yang nyantol satu, lama-lama banyak,” jelasnya.
Memiliki dua karyawan, Marta menuturkan terkadang masih terlewat saat melayani pembeli. Ia bahkan pernah mendapatkan komplain, lantaran kelewatan membalas pesanan.
“Senengnya itu ketemu pelanggan yang pintar milih barang, karena bikin bagus ya warnanya jadi senada. Dukanya kalau sudah melayani semaksimal mungkin, namanya manusia kadang ada yang kelewatan,” tutupnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

