BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa orang terlihat sedang berdiskusi di Omah Dongen Marwah (ODM) Kudus, Jumat (19/8/2022) malam. Dari pembicaraan itu, mereka terdengar sedang berbincang soal kretek. Mereka tak lain adalah anggota komunitas Nulis Aja Dulu (NAD) yang sedang menggelar acara rutinan.
Salah satu pendiri Komunitas NAD Irma Susanti Irsyadi (43) menjelaskan, berdirinya komunitas NAD berawal dari beberapa orang yang gemar menulis. Karena melihat kualitas literasi Indonesia yang rendah dan tidak bisa menyaring informasi, akhirnya mereka membuat komunitas Nulis Aja Dulu di Facebook pada 2018.
“Namanya memang terkesan iseng, karena kami ingin memberi semangat dulu kepada orang-orang. Jika ada kekesalan atau curahan hati yang penting nulis saja dulu,” katanya.
Baca juga: Komunitas NAD Akan Luncurkan 10 Buku Jejak Kretek Nusantara
Awalnya hanya puluhan orang, kemudian bertambah menjadi ratusan, dan empat tahun berjalan kini anggotanya mencapai 25 ribu orang. Dari 25 ribu orang itu, menurut Irma, ada sekitar 1.500 anggota yang aktif menulis dan sisanya merupakan pembaca.
Setiap hari, setidaknya Irma menerima 70 tulisan dari anggota NAD. Berbeda lagi saat ada kompetisi menulis, partisipasi anggotanya akan jauh lebih banyak.
“Kemudian mulai tahun 2020 kami mulai serius dalam mengedukasi dengan kelas menulis yang kami sebut ruang belajar. Sementara kompetisi menulis ada yang event tahunan dan aksidental. Sekarang kami mulai menjalin dengan lembaga-lembaga pemerintahan dan swasta yang butuh pelatihan,” jelasnya.
Baca juga: Mengenal Forum Kalen, Komunitas Kaum Intelektual di Kudus
Karena ingin serius bergerak dalam pendidikan, pada 2020 kemudian pihaknya mendirikan PT dan yayasan yang diberi nama Nakara Aksara Dunia. Saat ini, di PT tersebut ada tujuh pengurus aktif dengan dibantu 30 anggota NAD.
“Naskah-naskah ini kami klasifikasikan dan sudah membuat portofolio penulis yang bisa ditawarkan. Empat tahun berjalan sudah lebih dari 100 naskah yang terbit. Kami juga sudah ada MOU dengan Fakultas Seni dan Desain di UPI Bandung, di mata kuliah menggambar komik sebagai penyedia naskah,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

