BETANEWS.ID, KUDUS – I Dewa Ayu Firsty Meita Dewanggi, pembawa bendera pusaka pada upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Indonesia di Istana Merdeka pulang ke kampung ke Kudus, Selasa (30/8/2022). Dalam ramah tamah dengan Bupati Kudus HM Hartopo, dara yang akrab disapa Firsty itu mengaku kaget saat dipilih jadi pembawa bendera, sebab pemberitahuannya sangat mendadak.
“Bahkan di hari pengibaran, saya masih belum tahu tugas pagi apa sore. Saya diberitahu jadi pembawa baki bendera pusaka itu pukul 6:30 WIB, atau sekitar kurang tiga jam dimulai pengibaran,” ujar Firsty kepada awak media, Selasa (30/8/2022).

Meski terkesan mendadak, tapi Firsty mengaku siap untuk menjalankan tugas. Sebab memang selama karantina semua peserta pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) perempuan dilatih jadi pembawa baki.
Baca juga: I Dewa Ayu Firsty, Paskibraka Pembawa Bendera di Istana Merdeka Diarak Keliling Kudus
“Saat terpilih jadi pembawa baki bendera pusaka tentu bahagia. Sebab hal itu juga akan membuat bangga semua orang yang selama ini selalu mendukung saya,” bebernya.
Anak semata wayang dari pasangan I Dewa Gede Sri Pujono Darmo Yudo dan Jumiati itu juga menceritakan pengalamannya selama proses pelatihan Paskibraka di Jakarta. Dia mengaku, pada awal penggemblengan latihan sangat susah sekali beradaptasi.
Sebab di tingkat nasional, Paskibraka masing-masing merasa anak emas. Itulah yang sulit membuatnya berkenalan dengan anggota lainnya.
“Namun, hal itu berubah seketika saat saya terpilih sebagai Bu Lurah di mess karantina itu. Sehingga banyak anggota Paskibraka lain yang mendekatkan diri. Di sana saya tidak dipanggil Firsty tapi dipanggil Bu Lur,” cerita siswi SMA 2 Kudus tersebut.
Dalam waktu 40 hari pelatihan itu, banyak temannya yang menangis karena menahan kangen dengan keluarganya. Sedangkan dia tetap harus terlihat tegar untuk menguatkan mereka.
“Sebagai Bu Lurah saya harus terlihat tegar. Walaupun rasaku juga sama dengan mereka, kangen sama keluarga. Namun, saya tidak bisa menangis di hadapan mereka. Jika 67 teman saya menangis dam saya sebagai Bu Lurah ikut menangis, lalu siapa yang menenangkan mereka,” beber Fristy.
Baca juga: Beri Apresiasi Paskibraka Kudus, Hartopo: ‘Semoga Ada Firsty Lainnya Setiap HUT RI’
Ia mengaku, selalu menenangkan temannya agar mereka untuk tenang dan menahan rindunya kepada keluarga. Sebab keluarga mereka pasti bangga dan tentu menanti kepulangannya ke daerah masing-masing.
“Tapi kembali lagi, saya juga manusia. Saya juga punya rasa kangen dengan orang tua, apalagi saya anak tunggal. Namun, ketika saya menangis karena kangen itu, saya memilih menangis di bawah shower ketika mandi dan ketika bersujud,” bebernya.
Ketika bersujud itu, kata dia, curhat kepada Allah bahwa kangen dengan orang tuanya. Namun, ia juga belum memegang bendera pusaka.
“Itulah yang selalu motivasi saya. Hingga alhamdulillah saya dipilih jadi pembawa baki bendera pusaka saat upacara kemerdekaan ke-77 di Istana Merdeka,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

