Awalnya Terpaksa, Hasan Kini Malah Jadi Juragan Tempe

BETANEWS.ID, KUDUS – Sore itu Muhammad Hasan (41) tampak sibuk mencuci kedelai yang sudah direbus untuk memisahkannya dari kulit ari. Setelah terlepas dari kulitnya, ia kemudian mencucinya hingga bersih dan selanjutnya ditiriskan. Selang beberapa waktu, Kedelai itu kemudian dicampur ragi dengan takaran tertentu dan kemudian dibungkus sesuai dengan ukuran yang disiapkan.

Setelah menyelesaikan proses pembuatan tempe itu, Hasan sudi berbagai cerita terkait perjalanan usaha yang dirintisnya 2007 lalu itu. Menurutnya, saat memulai usaha itu ia merasa terpaksa karena tak ada pilihan lain.

Seorang pekerja sedang mentata tempe mentah di rak-rak penyimpanan di usaha Tempe Barokah. Foto: Erna Safitri.

“Pilih usaha tempe ini seperti terpaksa karena tidak punya pilihan lain. Saya dulu kerja nyablon di perusahaan mi lidi selama tujuh tahun setelah lulus SMP. Terus saya coba kerja lain jadi kuli bangunan sampai menikah,” katanya kepada Betanews.id, Selasa (19/7/2022).

-Advertisement-

Baca juga: Pakai Kedelai Super, Produsen Tempe Barokah Jepara Punya Omzet Jutaan Sehari

Saat itu, dirinya diajak kakak iparnya untuk ikut membuat tempe di rumah produksi milik keluarga. Tawaran itu ia terima karena ia sudah jarang menerima kerjaan sebagai kuli bangunan.

“Saat itu istri saya sedang mengandung anak pertama. Kesana ditraining selama satu bulan. Habis itu bikin sendiri,” ungkapnya.

Saat merintis sendiri, ia hanya punya modal Rp150 ribu untuk membeli kedelai seberat 15 kilogram. Dengan alat dan proses sederhana, Hasan membuat tempe di rumah orang tuanya. Tempe-tempe tersebut ia titipkan kepada saudaranya untuk dijual ke pasar.

Baca juga: Mantap Resign Kerja untuk Bisnis Ayam Petelur, Ghofur Kini Punya Omzet Puluhan Juta Sebulan

Berkat kerja keras dan keuletannya, ia kini malah sukses jadi juragan tempe di Desa Lebuawu, RT 17 RW 3, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara. Dari produksi 15 kilogram sehari, ia kini bisa menghabiskan 150 kilogram di waktu yang sama. Setiap harinya ia membuat tempe ukuran kecil, sedang, dan besar. Harga satuannya mulai Rp1 ribu sampai Rp3 ribu.

“Tempe-tempe tersebut saya jual ke Pasar Pecangaan dan Pasar  Bugel. Setiap harinya saya bisa mendapat omzet sekitar Rp3 Juta,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER