BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa petani yang didampingi petugas Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kabupaten Kudus tampak sedang merontokkan biji padi dari tangkainya di area persawahaan Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo. Setelah dirasa cukup, buliran padi itu dibersihkan dari dedaunan atau pun tangkai yang tercampur. Setelah bersih, biji padi pun dimasukkan ke karung dan kemudian ditimbang. Kegiatan itu adalah ubinan demplot padi.
Ditemui dil okasi, Sub Koordinator Tanaman Pangan pada Dispertan Kudus Arin Nikmah mengatakan, ubinan merupakan salah satu cara memprediksi jumlah produksi padi melalui penentuan sampel, pengukuran, dan penimbangan.
“Sebenarnya padi yang dilakukan kegiatan ubinan adalah yang siap dipanen. Namun, di sini karena sudah hampir selesai panen, jadi kami minta disisakan beberapa lokasi sebagai sampel untuk ubinan,” ujarnya, Rabu (20/7/2022).
Baca juga: Dampak La Nina, Hasil Panen Padi MT Dua di Kudus Turun
Menurutnya, proses ubinan biasanya dilakukan dengan cara sampling di lahan seluas 2,5 meter kali 2,5 meter. Dari hasil panen lahan yang dijadikan sampel itu, akan diketahui rata-rata produktifitas lahan tiap hektarenya.
“Biasanya yang dijadikan sampel ada dua atau tiga lokasi berbeda sebagai pembanding. Memang tidak bisa akurat 100 persen, tapi biasanya hasil panennya tak jauh berbeda,” bebernya.
Dengan melakukan ubinan sebelum panen, lanjut dia, petani akan mengetahui hasil panen padi dari sawahnya. Sehingga, mereka pun bisa mengkalkulasi harga padinya yang masih di sawah ke penebas.
“Sistem beli padi oleh penebas itu kan saat padi belum dipanen. Dengan adanya ubinan petani bisa mengkalkulasi harga yang ditawarkan, sehingga mengurangi indikasi dicurangi oleh penebas. Saat padi yang di sawah akan dibeli dengan harga murah, petani pun tahu, sebab mereka sudah tahu hasil panen padi dari sawah mereka,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

