Mutrikah, Adhit dan Hasan Aoni ‘Hanyut’ saat Bacakan Puisi Karya Yit Prayitno

BETANEWS.ID, KUDUS – Sambil memegang sejumlah lembaran kertas bertuliskan puisi-puisi karya Yit Prayitno di tangannya, seorang pria mengenakan kaus biru dengan topi hitam di kepalanya terlihat maju ke depan. Ia adalah Adhita Armi Trianto, Ketua Dewan Kesenian Semarang (Dekase) yang hendak membaca puisi di acara pembacaan dan bedah puisi Yit Prayitno, dalam rangka ulang tahun ke-11 Forum Kamis Legen (Kalen).

Adhit sapaan akrabnya, tampak terhanyut saat membaca puisi berjudul “Gusjigang”. Usai membaca puisi yang dibuat di Kudus, 23 Februari 2017 itu, dia mengucapkan terima kasih sudah diundang Forum Kalen.

“Terima kasih saya sudah diundang ke forum ini. Semua yang hadir di sini saya kira, ini kesempatan emas bagi saya untuk mengucapkan terima kasih. Karena sudah menjadi guru saya selama empat tahun di Kudus. Itu menjadi tahun-tahun yang sangat berharga bagi saya,” ucapnya saat acara yang digelar di Kebun Pecuk Pecukilan, Desa Bae, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus pada Kamis (7/7/2022) malam itu.

-Advertisement-
Dari kiri : Adhita Armi Trianto, Mutrikah dan Hasan Aoni Aziz saat membaca puisi karya Yit Prayitno. Foto: Ahmad Rosyidi.

, Baca juga: Inilah Puisi-Puisi Karya Yit Prayitno, Jurnalis Cum Sastrawan di Kudus

Setelah itu, Adhit mulai membaca puisi ke dua berjudul “Petani”. Dibuka dengan lagu Sundari Soekotjo, tubuhnya meliuk-liuk sambil memejamkan mata. Adhit semakin terhanyut saat membaca puisi. Lenggok tubuhnya mengiringi setiap sajak-sajak yang ia baca.

Selain Adhit, Hasan Aoni Aziz, pendiri Omah Dongeng Marwah (ODM), juga ikut membaca puisi yang dibuat Yit Prayitno tahun 2004 berjudul “Menanti Kejujuran”. Tak hanya Hasan begitu dia akrab disapa, para tamu yang hadir tampak ikut terhanyut mendengarkan hentakan suaranya saat menyebut kata pemimpin.

“Berikutnya, puisi yang sangat pendek tetapi syahdu. Saya tidak bisa membahas seperti Mas Asa, tetapi saya merasakan kesyahduannya, romantis. Ini perjalanan Mas Yit di Aceh nampaknya,” kata Hasan sebelum melanjutkan membaca puisi ke dua yang berjudul Angin Beriun.

Tak cukup dua puisi, Hasan juga tertarik membaca puisi berjudul “Subchan ZE”. Dengan nada lebih tinggi, dia mulai membaca puisi yang diciptakan Yit Prayitno, Kudus 14 Januari 2017 itu.

Pembaca selanjutnya yakni Gunadi, pemimpin kelompok Teater Samar, membaca puisi berjudul “1918 dan 1980”. Kemudian dilanjutkan Plt Kepala Disbudpar, Kudus Mutrikah dengan judul “Aku Bukan Penyair”.

“Saya mencoba membacakan sebuah puisi yang mungkin merupakan sebuah perasaannya Bang Prayit, saya coba ikut merasakan,” ucap Mutrikah sambil tersenyum sebelum membaca puisi.

Dengan suara sedikit serak, ia mulai membaca bait demi bait puisi Yit Prayitno yang diciptakan 6 Juni 2020 itu. Dia tampak terhanyut ikut merasakan perasaan sang penulis.

Baca juga: Menurut Asa, Puisi-Puisi Karya Yit Prayitno Jadi Alarm Zaman

Waktu menunjukan pukul 22.00 WIB, di penghujung acara, Martinus Basuki Soegita selaku ketua panitia ikut memeriahkan acara tersebut dengan membaca puisi berjudul “426”. Ia mengaku bahwa baru pertama kali membaca puisi.

“Saya itu seumur-umur membaca puisi baru hari ini. Kalau ibarat anak sekolah, saya ini duduk paling di belakang dan tiba-tiba disuruh maju mengerjakan soal matematika,” katanya sambil tertawa sebelum acara ditutup dengan penyerahan cindera mata untuk Yit Prayitno.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER