31 C
Kudus
Minggu, Juni 26, 2022
spot_img
BerandaKUDUSKasus ODGJ di...

Kasus ODGJ di 6 Desa di Kudus Ini Meningkat Selama Pandemi, Mayoritas Usia Produktif

BETANEWS.ID, KUDUS – Selama dua tahun pandemi sangat berdampak pada masyarakat, termasuk di Kabupaten Kudus. Tak sedikit warga yang kehilangan pekerjaan dan perekonomiannya hancur hingga membuat stres dan mengalami gangguan jiwa. Bahkan di wilayah kerja Puskesmas Ngembal Kulon, kasus orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) naik drastis selama pandemi.

Hal itu diungkap oleh Kepala Puskesmas Ngembal Kulon Kamal Agus Efendi. Dia mengatakan, wilayah kerja Puskesmas Ngembal Kulon meliputi enam desa di Kecamatan Jati. Antara lain, Desa Ngembal Kulon, Tumpangkrasak, Megawon, Loram Wetan, Jepang Pakis dan Getas Pejaten. Dari enam desa tersebut sejak pandemi hingga saat ini ada 81 ODGJ.

Baca juga: Berkat Dedikasinya Tangani ODGJ Jalanan, Pemilik Channel Youtube Sinau Hurip Dapat Penghargaan dari Jokowi

- Ads Banner -

“Kasus tersebut naik. Sebab sebelum pandemi ODGJ di wilayah karja kami tak sampai 50 orang,” ujar pria yang akrab disapa Kamal kepada Betanews.id, Rabu (22/6/2022).

Dia mengatakan, melonjaknya ODGJ di wilayah kerja Puskesmas Ngembal Kulon, membuat pihaknya prihatin. Apalagi pasien dengan ganggaun kejiwaan itu kebanyakan masih usia produktif.

“Mayoritas mereka itu usia produktif, antara umur 30 sampai 40 tahun. Jadi sangat kasihan sekali,” ucapnya.

Atas persoalan itu, kata Kamal, pihaknya pun membuat inovasi program kerja yang dinamai Besti Bela Diri, yang merupakan akronim dari bebas stigma, bebas gejala mandiri. Dengan inovasi tersebut, nantinya akan ada pendampingan terhadap pasien dengan gangguan kejiwaan yang cukup baik, agar lebih produktif dan mandiri.

“Dengan program inovasi ini, pasien kejiwaan yang cukup baik, termonitor, terkontrol dengan baik, minum obat teratur akan kita dampingi. Kita ajak mereka agar lebih produktif dan tidak bergantung pada orang lain,” jelasnya.

Dia menuturkan, ODGJ misal depresi akan cenderung tidak mau bersosialisasi. Bergantung pada orang lain. Bisa saja karena gangguan jiwa mau makan saja susah. Berarti bisa saja pihak keluarga kurang perhatian.

“Oleh sebab itu, dilakukan pendampingan. Kita perhatikan kebutuhan dasarnya. Kemudian secara bertahap kita minimalkan ketergantungan pada orang lain. Serta pendampingan itu bagaimana agar mereka lebih bahagia,” ungkapnya.

Setelah itu tercapai, lanjutnya, pasien kejiwaan itu diarahkan pada sesuatu hal yang mereka gemari. Misal ada yang suka bermusik bisa difasilitasi, atau mereka yang bisa bikin kerajinan dan lainnya akan terus dilakukan pendampingan.

Baca juga: Manfaatkan Channel Youtube, Adi Pertemukan Puluhan ODGJ Jalanan dengan Keluarganya

“Sebab sudah ada wilayah kerja kami itu ada ODGJ yang bisa bikin kandang burung, ada yang ternak burung kicau. Serta ada juga yang budi daya ikan. Harapannya dengan program kerja Besti Bela Diri ini para ODGJ bisa tetap berkarya dan produktif,” bebernya.

Dia menjelaskan, bahwa inovasi program kerja Besti Bela Diri ditujukan untuk pasien kejiwaan yang masih terkontrol. Jika ODGJ tidak terkontrol, masih di jalan dan tak bisa dikendalikan nanti bisa dirujuk ke rumah sakit yang ada layanan perawatan ODGJ.

“Setelah pasien itu sudah lumayan tenang, tidak mengancam dirinya sendiri dan orang lain, baru kita bisa memberikan pendampingan agar ODGJ itu tetap stabil kejiwaannya. Hingga mampu berkarya,” jelasnya.

Editor : Kholistiono

Lipsus 14 - Penerapan Teknologi Bambu untuk Tanggul Laut Tol Semarang Demak

Tinggalkan Balasan

31,944FansSuka
15,127PengikutMengikuti
4,332PengikutMengikuti
80,005PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler