BETANEWS.ID, SOLO – Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Surakarta, Jawa Tengah, mendorong kemandirian pondok pesantren melalui pengembangan bisnis pertanian melalui program Infratani (Integrated Farming with Technology and Information) yang merupakan pertanian berbasis teknologi green house.
“Untuk di Solo Raya ini green house sudah ada lima, semuanya diawali dengan tanaman melon,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Surakarta Nugroho Joko Prastowo di sela panen perdana melon di Pondok Pesantren Takmirul Islam Surakarta, Senin (6/6/2022).
Selain Takmirul Islam, dikatakannya, lima pondok pesantren di Solo Raya yang sudah melakukan aktivitas pertanian dengan konsep rumah hijau ini di antaranya di Pondok Pesantren Ki Ageng Selo Klaten, Pondok Pesantren Darul Quran Sragen, Darul Hasan Sukoharjo dan Ar Ruqoyah Wonogiri.
Baca juga: BI Solo Buka Layanan Penukaran Uang di Loket dan Keliling, Ini Jadwal dan Tempatnya
“Program Infratani untuk penguatan sektor pertanian terintegrasi yang berbasis pada pemanfaatan teknologi digital ini, BI menggandeng pesantren di dalam ekosistem Himpunan Ekonomi dan Bisnis Pesantren (Hebitren),” jelas Joko.
Menurut Joko, program pertanian berbasis green house itu akan ditambah, khususnya di wilayah Solo Raya. Dengan hadirnya program tersebut di pesantren, diharapkan mampu meningkatkan kemandirian ekonomi.
“Kalau ini bisa menggeliat di seluruh Indonesia, pertumbuhan ekonomi bisa naik menjadi 6 sampai 7 persen,” paparnya.
Lebih lanjut, Joko mengatakan, bahwa Hebitren di Solo Raya paling aktif di Jawa Tengah. Meski secara makro dampaknya belum terlihat, namun secara mikro ponpes sudah memiliki pendapatan dari kemandirian ekonomi yang dijalankan.
Pada kesempatan yang sama, Ketua DPP Hebitren Indonesia, KH Hasib Wahab Hasbullah mengatakan, bahwa Hebitren adalah wadah bagi pesantren untuk mengembangkan usaha. Baik bagi pesantren yang sudah memiliki ataupun belum.
“Kita sudah melakukan Mukernas, yang salah satu hasilnya adalah mengembangkan usaha dengan BI di beberapa bidang yang salah satunya green house,” kata Hasib.
Hasib mengungkapkan, sudah ada 70 kemitraan di Provinsi Jawa Barat untuk pengembangan green house. Sedangkan, di Jawa Tengah ada lima titik dan menyusul di Jawa Timur yang juga akan ada lima titik dengan menjalin kerjasama dengan petani.
Sementara itu, Wakil Walikota Solo Teguh Prakosa yang juga hadir dalam acara tersebut mengatakan, bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Solo siap mendukung pemasaran hasil panen pertanian ponpes di Solo.
“Nanti kami titipkan hasil panen ponpes ini ke supermarket atau minimarket atas nama Pemkot. Karena ponpes tidak bisa bekerja sendiri, harus bersinergi dengan berbagai pihak,” ujar Teguh.
Sebelumnya, tumbuhan melon itu sudah ditanam pada Maret 2022 lalu. Melon varietas inthanon di Ponpes Takmirul Islam tersebut menghasilkan 1.000 buah melon.
Pengasuh Ponpes Takmirul Islam, KH Muhammad Halim menjelaskan, green house tersebut memiliki luas 500 meter persegi.
Baca juga: Baru 40 Persen UMKM Binaan Dinkop UKM Solo yang Go Digital
“Tanah di sini mahal, tapi kalau dipakai pertanian kurang efektif. Tetapi dengan menggunakan green house dengan konsep urban farming ternyata bisa mengoptimalkan lahan di perkotaan,” jelas Halim.
Sebelumnya mengikuti program Infratani, ponpes Takmirul Islam sudah mengembangkan usaha pertanian hortikultura sejak 2015 di lahan persawahan yang lokasinya di luar wilayah Kota Solo.
“Kebetulan BI mendorong kami untuk pengembangan pertanian di dalam kota dan kami memiliki lahan maka bisa dijadikan green house,” kata dia.
Editor : Kholistiono

