31 C
Kudus
Rabu, Juni 29, 2022
spot_img
BerandaKISAHCerita Para Seniman...

Cerita Para Seniman Kudus yang Karyanya Sering Diremehkan dan Ditawar Murah

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa pelaku seni di Kabupaten Kudus mengeluhkan sikap masyarakat yang kurang menghargai sebuah karya seni. Bahkan, mereka cenderung meremehkan.

Hal itu diungkap oleh salah satu pelaku seni di Kudus yakni Muhammad Ridlo (33). Pelaku seni phyrograpy atau seni lukis bakar mengaku beberapa kali mendapatkan perilaku dan omongan dari masyarakat yang kurang menghargai karyanya.

Ia pun kemudian menceritakan pengalaman tersebut. Awalnya, mereka itu bertanya tentang salah satu karya seni lukis bakar. Setelah dijawab, mereka pun menanyakan harga. Namun, setelah tahu harganya mereka memberi jawaban yang sangat meremehkan hasil karya seni.

- Ads Banner -

Baca juga: Heru Sulap Limbah Kayu Jati Jadi Ukir Wajah 3D yang Bernilai Jual Tinggi

“Mereka itu sering mangatai, cuma karya begitu saja kok harganya mahal. Padahal saya mematok harga untuk karya phyrograpy itu masih sangat terjangkau,” ujar warga Desa Garung Kidul, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus itu, Jumat (22/4/2022).

Tak hanya sekali dua kali, menurutnya perlakuan itu sering didapatkannya saat membahas harga lukisan. Makanya, Ia berharap masyarakat bisa lebih menghargai sebuah karya seni. Tak lupa ia pun mengajak seniman di Kota Kretek untuk tetap semangat berkarya.

“Para kawan-kawan seniman di Kudus tetap semangat berkarya. Meski sering diremehkan jangan patah arang. Semoga ke depan sumber daya masyarakat (SDM) kita bisa lebih baik dan lebih menghargai karya seni,” harap pria berambut gondrong itu.

Hal senada juga dikatakan oleh Safiq Afandi (44). Pelaku seni kaligrafi itu berpendapat, warga yang meremehkan karya seni karena kurang pengetahuannya terhadap nilai sebuah seni. Sehingga, mereka cenderung menganggap karya seniman itu bukan sebagai seni.

Baca juga: Lukisan Sketsa Wajah yang Keren Ini Cocok untuk Hadiah

“Karena kurang pengetahuan itulah, sehingga mereka cenderung menganggap mudah karya seni. Sehingga menghargai karya seni dengan sangat murah,” ujar Safiq.

Padahal selama ini, ia mengaku mematok harga untuk karya seninya masih sangat terjangkau. Namun, karena ketidakpekaan warga terhadap sebuah karya seni, harga yang sudah murah itu pun masih ditawar.

“Saya sering mengalami hal seperti itu. Menawarkan karya seni, sering sekali ditawar padahal sudah murah,” beber warga Dukuh Pondok, Desa Bae, Kecamatan Bae, Kudus.

Editor: Ahmad Muhlisin

Lipsus 14 - Penerapan Teknologi Bambu untuk Tanggul Laut Tol Semarang Demak

Tinggalkan Balasan

31,944FansSuka
15,127PengikutMengikuti
4,332PengikutMengikuti
80,005PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler