BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria terlihat lincah menuangkan adonan dan menggeser cetakan kue gapit di sebuah rumah, Desa Bulungcangkring RT 4 RW 4, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Pembuatannya yang masih tradisional itu seperti tak menghalanginya untuk membuat kue bertekstur renyah itu secara cepat. Bahkan, dalam hitungan jam, ia sudah menghasilkan banyak sekali kue yang akan siap dibungkus oleh Sukarsih.
Di tempat produksi bernama Centra Kue Gapit Mitra UJ itu, Sukarsih memang hanya berdua saja memproduksi kue gapit. Setiap harinya, wanita berumur 60 tahun itu mengolah 6 kilogram tepung dengan 3 kilogram gula pasir untuk memenuhi pesanan. Sedangkan saat pesanan membwludak seperti menjelang lebaran dan saat banyak orang punya hajatan, setidaknya ia menggunakan 10 kilogram tepung dan 5 kilogram gula pasir.
“Pesanan paling banyak ya memang seperti sekarang saat sebelum lebaran. Paling tidak memproduksi 15 kilogram. Kalau mulai buat jam 7 pagi, siang paling sudah selesai,” ungkapnya, Sabtu (30/4/2022).
Baca juga: Dekati Lebaran, Daging Kerbau dan Sapi Jualan Mbak Tina Diburu Pembeli
Meski laris manis, untuk penjualan Karsih hanya mampu menjajakan ke beberapa pemesan tak jauh dari rumahnya, seperti di Desa Klaling, Jekulo, dan Bulungcangkring. Hal itu disebabkan keterbatasan pengiriman serta perlu bantuan orang lain untuk mengirimkan.
“Saya biasanya setor ke (Desa) Klaling, Jekulo, Kalidoro, masih deket-deket sini saja. Belum sampai ke jauh luar kota. Lagian yang jual gapit juga bukan saya saja, banyak di Kudus,” ujarnya.
Harga kue Gapit buatan Sukarsih bermacam-macam. Ukuran 1/4 kilogram harganya R 8 ribu, 1/2 kilogram Rp20 ribu, dan 1 kilogram seharga Rp40 ribu. Tak usah khawatir, Karsih pun menjamin bahwa harganya ini masih bisa ditawar. Hanya saja, bagi yang ingin memesan kue gapit buatannya harus datang langsung ke rumahnya.
“Kalau mau pesan, ya datang langsung ke sini,” tandas dia.
Editor: Ahmad Muhlisin

