31 C
Kudus
Senin, Januari 26, 2026

Kasus Stunting di Solo Tertinggi Kedua di Jateng

BETANEWS.ID, SOLO – Kasus Stunting atau terhambatnya tumbuh kembang anak di Kota Solo masuk tertinggi kedua di Jawa Tengah setelah Tegal. Saat ini, di kota yang dipimpin Wali Kota Gibran Rakabuming Raka itu ada sekitar 800 kasus aktif.

Ketua Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kota Solo, Selvi Ananda menjelaskan, penyebab kasus stunting tersebut masih sama, yakni dari faktor ekonomi, higienitas lingkungan, serta sanitasi yang masih kurang.

“Dari kita, targetnya itu setiap tahun harus turun 3 persen. Dari tahun lalu angka kita masih tetap sama segitu. Kita nomor dua se-Jawa Tengah habis Tegal, nomor dua dari atas,” ungkap Selvi.

-Advertisement-

Baca juga: Kasus Anak Stunting di Semarang Capai Ribuan, Pemkot Bakal Beri Susu Gratis

Oleh sebab itu, pihaknya terus menggandeng berbagai pihak untuk mencukupi kebutuhan gizi sehingga tidak terjadi stunting. Seperti yang diselenggarakan kali ini, yakni donasi multivitamin Blackmores Pregnancy & Breast Feeding Gold untuk dua ribu ibu hamil dan ibu menyusui di Gedung Dinas Kesehatan Kota Solo, Senin (4/4/2022).

Bantuan tersebut akan diberikan selama enam bulan berturut-turut dan disalurkan sebulan sekali melalui puskesmas di Kota Solo.

“Menurut saya tidak bisa hanya dengan edukasi, sosialisasi tapi harus dengan sasaran yaitu pemberian bantuan secara langsung. Seperti kegiatan ini ibu hamil dan ibu menyusui dapat multivitamin. Kita cari CSR-CSR untuk memberikan bantuan bantuan lagi ke anak-anak, balita stunting, ibu hamil, serta ibu menyusui. Dengan tujuan untuk meningkatkan gizi,” papar Selvi.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Solo, Siti Wahyuningsih menjelaskan, data mengenai stunting tersebut berdasarkan data SSGI atau Survei Gizi Indonesia dari Kementerian Kesehatan.

Baca juga: Kasus Stunting jadi Perhatian Utama TP PKK Solo

“Data survei gizi indonesia (SSGI) itukan pakainya blok sensus. Blok sensus itu Solo mendapat 10 blok sensus angka nasional yang dipakai itu. Blok sensus itukan cuma menggambarkan berapa populasi. SSGI itu dari luar, tapi itu tidak seluruh penduduk ditimbang lho,” jelas Siti.

Lebih lanjut, menurut Siti, permasalahan stunting harus diselesaikan secara komprehensif.

“Dinas pertanian mengambil peran bagaimana pemberdayaan lahan, kemudian perkim peranannya juga sangat besar. Seperti Intervensi fisik 70 persen jambannya gimana. Terus kemudian ipalnya, lantai rumahnya gimana, ventilasinya gimana. Karena stunting itu tidak hanya diintervensi dari masalah kesehatan saja,” kata Siti.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER