Pengusaha Kerupuk di Kudus Kelimpungan Akibat Minyak Goreng Curah Mahal dan Langka

BETANEWS.ID, KUDUS – Keberadaaan minyak curah di Kabupaten Kudus saat ini langka. Kalaupun ada, harganya pun cukup mahal. Hal itu membuat kelimpungan pengusaha kerupuk di Kota Kretek.

Salah satunya adalah Ahmad Riyadi (41). Pengusaha kerupuk di Desa Krandon, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus itu mengatakan, sejak dua bulan lalu harga minyak goreng tidak stabil. Namun, yang paling parah pada sepekan terakhir ini. Harga minyak curah mahal menyentuh kisaran Rp 17.500 sampai Rp 18 ribu per kilogram.

Kerupuk yang masih mentah dijemur sebelum dilakukan penggorengan. Foto: Rabu Sipan.

Baca juga : Minyak Goreng Curah Langka, Penjual: ‘Sudah Seminggu Distributor Semarang Tak Kirim’

-Advertisement-

“Harga minyak curah mahal ini, Rp 17.500 per kilogram. Padahal harga normalnya itu Rp 11 ribu per kilogram,” ujar Riyadi kepada Betanews.id, Kamis (24/3/2022).

Tak hanya mahal, lanjut Riyadi, minyak goreng curah yang langka makin membuat keadaan makin susah. Bahkan, ia pernah terpaksa berhenti produksi gegara kehabisan minyak curah dan tak dapat pasokan.

“Pernah berhenti produksi sehari. Sebab sama sekali tak dapat pasokan minyak goreng curah,” tandasnya.

Dia menuturkan, usaha produksi kerupuk memang membutuhkan banyak minyak curah untuk menggoreng. Oleh sebab itu, di saat harga minyak curah mahal, ia harus memutar otak agar bisa bertahan.

“Setiap harinya, saya itu membutuhkan minyak curah sekitar satu kuintal. Itu untuk menggoreng dua kuintal adonan kerupuk,” terangnya.

Ia pun mengaku kebingungan, sebab saat ini stok minyak gorengnya tinggal tiga jeriken berisi 76 kilogram. Yang berarti hanya cukup untuk menggoreng sehari. Sedangkan saat ini minyak curah masih langka.

“Semoga saja besok atau nanti sore dapat pasokan minyak curah. Agar besok tetap bisa produksi,” harapnya.

Dia mengatakan, selain minyak goreng yang mahal, tepung tapioka yang notabene bahan dasar kerupuk saat ini harganya juga melonjak tajam. Hal itu makin membuatnya kelimpungan.

Baca juga : Keliling 25 Toko Tak Dapat Minyak Goreng Curah, Warga: ‘Kalau Nggak Bisa Ngurus, Bubar Saja’

“Ya, harga tepung tapioka yang empat bulan lalu masih Rp 550 ribu per kuintal, kini naik menjadi Rp 950 ribu per kwintal,” bebernya.

Oleh sebab itu, agar usahanya tetap jalan, Riyadi pun mengurangi ukuran kerupuk produksinya. Selain itu ia juga terpaksa menaikan harga jualnya Rp 2 ribu per bal yang berisi 600 kerupuk.

“Terpaksa saya naikkan harganya, itu saja keuntungan masih nol,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER