Asal-Usul Tradisi Sewu Sempol di Punden Keramat Masin Kandangmas

BETANEWS.ID, KUDUS – Setiap Kamis terakhir Bulan Syakban, di Makam Raden Bagus Rinangku dan Raden Ayu Nawangsih atau yang dikenal sebagai Punden Keramat Masin diadakan tradisi Sewu Sempol.

Ketua Pengelola Situs Keramat Punden Dukuh Masin yakni Kanjeng Raden Haryo Tumenggung (KRHT) Sumartono Rekso Tanoyo (77) mengatakan,  tradisi sewu sempol adalah sebagai bentuk doa warga setempat untuk para leluhurnya. Pencetusnya adalah juru kunci Punden Keramat Masin kedua yang bernama Jamasri.

Tradisi Sewu sempol menjelang Ramadan di Dukuh masin, Desa Kandangmas. Foto: Rabu Sipan

“Pertama kali ada tradisi Sewu Sempol itu saat juru kunci punden dipegang Mbah Jamasri. Bahkan beliau lah pencetus tradisi Sewu Sempol,” ujarnya, Kamis (24/3/2022).

-Advertisement-

Baca juga: Sewu Sempol, Tradisi Menjelang Ramadan di Dukuh Masin Kandangmas

Sumartono mengatakan, sebelum ada tradisi sewu sempol di Punden Keramat Masin, prosesi berdoa kepada leluhur jelang Bulan Ramadan dilakukan di rumah warga masing-masing. Biasanya warga yang punya hajat mengundang tetangga untuk membaca tahlil sebagai bentuk pengiriman doa kepada leluhurnya.

“Kalau begitu gantian orang sekampung, acara sedekah kepada leluhur tak rampung semalam. Dari situ Mbah Jamasri punya ide agar sedekah kepada leluhur dijadikan satu waktu di Makam Keramat Punden Masin,” bebernya.

Usulan tersebut, kata dia, disetujui para warga. Selain irit waktu, sedekah leluhur di Punden Keramat Masin juga lebih irit secara biaya. Sehingga sekitar tahun 1985 dimulailah tradisi sewu sempol.

“Dulu itu satu ayam habis dibagi ke tetangga, tapi dengan tradisi sewu sempol ini setiap warga hanya menyerahkan satu sempol ke panitia dan sisanya bisa dibawa pulang untuk dimakan bersama keluarga,” ungkapnya.

Baca juga: Tradisi Pesta Panen di Belik Sri Growong Kaliwungu

Pengurus Punden Keramat Masin sekaligus Modin Desa Kandangmas yakni Suhardi (67) menambahkan, di tradisi sewu sempol seluruh warga Desa Kandangmas ikut selametan. Mereka membawa nasi dan lauk satu ayam utuh.

“Selain warga setempat yang ikut tradisi Sewu Sempol, banyak juga warga daerah lain yang datang untuk mencari berkah,” ujar Suhardi.

Sebab, kata dia, di acara tradisi Sewu Sempol juga ada pengumpulan bunga untuk keperluan tabur makam. Bunga-bunga tersebut dibawahnya diasapi kemenyan.

“Tadi banyak peziarah yang ambil bunga. Bagi yang percaya itu bisa untuk pelarisan dagang, penyembuh sakit dan manfaat lainnya. Namun, harus tetap percaya bahwa semua itu pemberian dari Allah,” tandasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER