BETANEWS.ID, KUDUS – Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN), wartawan di Kabupaten Kudus melakukan ziarah ke Makam Raden Mas Panji (RMP) Sosrokartono, yang berada di komplek Pemakaman Sedomukti Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Rabu (9/2/2022).
Sosrokartono di masa hidupnya merupakan seorang jurnalis hebat yang dikenal lewat tulisannya. Di antaranya tentang perundingan rahasia perdamaian gencatan senjata pada perang dunia satu.
Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kudus Ali Bustomi mengungkapkan, wartawan Kudus diharapkan mampu meneladani apa yang diperjuangkan seorang Sosrokartono, wartawan legendaris tersebut.
Baca juga : Muhaimin Iskandar : ‘Jurnalis jadi Kunci Menangkal Disinformasi’
Apalagi, Sosrokartono juga dikenal sebagai Si Jenius dari Timur yang memiliki kemampuan mahir dalam 36 bahasa.
“Tingginya pengetahuan itu, semoga kami dari wartawan Kudus mampu meneladani apa yang diperjuangkan beliau,” ungkap Bustomi.
Sementara itu, Juru Kunci Makam Keluarga Sedomukti Trah Tjondronegaran yakni Temu Sunarto sudi untuk bercerita tentang sejarah seorang Sosrokartono.
Menurutnya, Sosrokartono merupakan keturunan ningrat. Bapaknya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang merupakan Bupati Jepara saat itu. Sedangkan ibunya bernama Ngasirah yang merupakan garwo ampil atau selir.
RMP Sosrokartono lahir pada tanggal 10 April 1877 di Desa Mayong, Kabupaten Jepara. Beliau juga kakak kandung dari Pahlawan Nasional, pejuang bagi hak-hak kaum perempuan yakni Raden Ajeng (RA) Kartini.
Terlahir dari keluarga ningrat, Sosrokartono mendapatkan pendidikan yang memadai. Pada tahun 1892, dia tamat sekolah Europeesche Lagere School (ELS) di Kota Ukir. Kemudian melanjutkan sekolah di Hoogere Burgerschool (HBS) di Semarang dan lulus pada tahun 1897.
“Usai lulus, Sosrokartono melanjutkan pendidikan ke Negeri Belanda. Dia adalah mahasiswa Indonesia pertama yang belajar di Belanda,” jelasnya.
Sunarto menuturkan, pada tahun 1897 sampai 1899, Sosrokartono kuliah di Technische Hogeschool di Delft, Belanda. Namun, Sosrokartono yang tidak suka dengan ilmu teknik dan lebih suka sastra dan filsafat, kemudian memutuskan untuk pindah kuliah.
“Pada tahun 1899 Sosrokartono pun pindah kuliah di Fakultas Sastra dan Filsafat di Universitas Leiden, Belanda,” tandasnya.
Belum setahun masuk Fakultas Sastra dan Filsafat, Sosrokartono yang sejak kecil terkenal jenius tersebut didapuk untuk berpidato di depan Kongres ke-25 Bahasa dan Kesusastraan Belanda di Kota Gent, Belgia.
Baca juga : Sosrokartono Sang Jenius dari Timur yang Kuasi 36 Bahasa
“Sosrokartono lulus sebagai sarjana muda pada tahun pada tahun 1901. Usai lulus, Sosrokartono pun memutuskan melanjutkan menimba ilmu hingga lulus sebagai Doktorandus (Drs) di Universitas Leiden pada tahun 1908,” ungkapnya.
Lulus sebagai Doktorandus (Drs) lanjutnya, Sosrokartono dikenal sebagai pemuda yang pintar dan jenius. Beliau menguasai 36 bahasa, 26 bahasa asing dan 10 bahasa dalam negeri. Beliau tidak langsung pulang ke tanah air, tapi melalang buana ke penjuru Eropa.
“Pada tahun 1908, Sosrokartono bersama mahasiswa Indonesia yang ada di Belanda mendirikan Indische Vereeniging, sebuah perhimpunan mahasiswa Indonesia di Belanda,” kata Sunarto.
Hingga pada 8 Februari 1952 tepatnya di Bandung, Sosrokartono wafat. Jasadnya disemayamkan di Kudus.
Editor : Kholistiono

