BETANEWS.ID, KUDUS – Sebanyak sembilan desa di tiga kecamatan Kabupaten Kudus bakal dilewati proyek tol Demak-Tuban. Desa tersebut adalah Desa Kesambi, Temulus, Jojo, Kecamatan Mejobo, Desa Undaan Lor, Wates, Ngemplak, Kecamatan Undaan, dan Desa Sadang, Bulungcangkring, Bulung Kulon, Kecamatan Jekulo.
Hari ini, Selasa (15/2/2022), seluruh kepala desa yang wilayahnya masuk rencana proyek lanjutan Tol Semarang-Demak itu dipanggil untuk persiapan sosialisasi dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kudus.
Kepala Dinas PKPLH Kudus, Agustinus Agung Karyanto menjelaskan, kepada kepala desa yang datang, pihaknya tidak bisa memastikan wilayahnya akan dilewati jalur tol. Pihaknya hanya memberikan informasi, bahwa Senin (21/2/2022) mendatang, Kementerian PUPR akan melakukan sosialisasi ke Kudus.
Baca juga: 3 Kecamatan di Kudus Akan Dilewati Tol Demak-Tuban
“Kami hanya ingin menyampaikan hari Senin nanti mereka harus datang sosialisasi. Mendengar langsung dari Kementerian PUPR. Akan ada proyek pembangunan tol,” lanjutnya.
Agung mengaku, sampai saat ini pihaknya belum menerima master plan pembangunan jalan tol yang akan melewati Kudus. Pihaknya tidak memungkiri bahwa Kudus memang tertinggal dari kabupaten tetangga dalam hal ini.
“Ya tidak apa-apa. Kudus telat, tapi yang lain langsung ketemu kepala desa dan camat, ya monggo. Kalau Kudus, jangan lah. Ini hal krusial dan substantif, Bupati harus tahu dulu,” jelasnya.
Baca juga: Cek Proyek Tol Semarang-Demak Seksi II, Ganjar: ‘Ini Ikhtiar Atasi Rob dan Macet’
Selama berkomunikasi, Agung mengaku tidak ada kepala desa yang menolak adanya rencana pembangunan jalan tol tersebut. Mereka justru menunggu kabar pastinya, agar tidak ada salah paham.
Kepada kepala desa yang datang, Agung menekankan agar tidak gampang terpengaruh spekulan atau tengkulak tanah nantinya. Kepada pemilik tanah yang akan dijadikan lokasi pembuatan jalan tol, Agung berpesan untuk lebih teliti dalam mengoperasikan uangnya.
“Jangan menjadi euforia beli mobil ini itu. Belikan barang produktif dan investasi. Termasuk menyekolahkan anak itu juga investasi,” tutupnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

