BETANEWS.ID, KUDUS – Dalam program menjaga keamanan pangan demi menyehatkan masyarakat khususnya di Kabupaten Kudus, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Semarang akan sidak lapangan. Salah satunya adalah pengecekan makanan yang dikonsumsi anak-anak sekolah.
“Seperti yang kita tahu, jajanan anak sekolah masih banyak yang bermasalah. Jadi kita perlu pendampingan,” kata Kepala BBPOM di Semarang, Sandra MP Linthin usai bertemu dengan Bupati Kudus HM Hartopo dan Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus beberapa waktu lalu.
Baca juga : Orang Tua Diminta Bisa Kontrol Jajanan Anak di Sekolah
Dalam program tersebut, Sandra mengungkapkan, bahwa ada 30 sekolah di Kudus yang akan diberi pendampingan. Mulai dari jenjang SD hingga SMA sederajat.
Program pengawasan makanan ini, bukan hanya di Kudus. Tahun 2022, BBPOM Semarang menyasar 5 kabupaten/kota di Jawa Tengah untuk dilakukan pengawasan.
Kegiatan ini pun bukan kali pertama. Di tahun-tahun sebelumnya, kegiatan yang sama juga telah dilakukan di kabupaten/kota lainnya.
Tidak hanya menyasar jajanan anak sekolah, ada dua hal lain yang dilakukan dalam pengawasan ini. Yakni pemberdayaan komunitas dalam keamanan pangan, khususnya keamanan pangan di desa.
“Program ini bertujuan memberdayakan masyarakat desa. Dari masyarakat ke masyarakat. Membina kader keamanan pangan dan memberi pendampingan pada home industri pangan di daerah tersebut,” jelas Sandra.
Kemudian, ada program pemilihan satu pasar. Di mana akan ada satu pasar di Kudus yang akan diintervensi keamanan pangannya oleh BBPOM Semarang.
Hal yang perlu diwaspadai dalam jajanan anak sekolah maupun makanan yang dijual di pasar, menurut Sandra adalah makanan yang mengandung bahan berbahaya. Seperti mengandung bahan formalin, boraks, dan sebagainya. Di mana dampaknya tidak bisa dirasakan secara langsung, namun dampaknya dapat terasa dalam jangan panjang.
“Ini sangat berbahaya. Efeknya memang tidak spontan, seperti saat makan racun yang efeknya spontan pusing dan sebagainya. Tapi boraks, formalin ini efeknya tidak spontan tapi jangka panjang. Bisa menyebabkan kerusakan ginjal dan sebagainya,” jelas Sandra.
Baca juga : BPOM Semarang Musnahkan Ribuan Obat Tradisional yang Disita dari Produsen di Pati
Pengawasan makanan ini disambut baik oleh Disdikpora Kabupaten Kudus. Apalagi melihat pernah adanya siswa keracunan karena makanan, menjadikan pengawasan pangan memang perlu dilakukan.
“Sosialisasi kepada siswa dan guru akan kita dilakukan terkait makanan yang sehat. Tim dari Disdikpora juga akan segera mengadakan rapat koordinasi antara BBPOM, Dinas Kesehatan, dan Disdikpora. Kita juga akan melibatkan pihak kantin terkait makanan yang sehat dan tidak berbahaya,” ungkap Kepala Disdikpora Kabupaten Kudus Harjuna Widada.
Editor : Kholistiono

