31 C
Kudus
Minggu, Mei 22, 2022
spot_img
BerandaKisah3 Kisah Inspiratif...

3 Kisah Inspiratif Pengusaha Konveksi di Kudus

BETANEWS.ID – Selain dikenal dengan Kota Kretek, Kudus juga memiliki banyak pengusaha konveksi. Bahkan, Kudus memiliki sentra konveksi di Desa Padurenan, Kecamatan Gebog. Tak hanya di Desa Padurenan, di Desa lain juga banyak ditemukan para pelaku usaha konveksi. Membangun usaha yang menghasilkan keuntungan besar tentu menjadi impian banyak orang. Namun, untuk mencapai hal tersebut juga memerlukan upaya yang besar pula. Berikut empat kisah inspiratif pelaku usaha konveksi di Kudus.

 Lina Livia Hijab

Lina Livia, Owner Lina Livia Hijab. Foto: Rabu Sipan

Lina Livia (44) owner dari Lina Livia Hijab, pernah merasa terpuruk akibat bangkrut usaha logam kuningan. Karena ditipu, usahanya bangkrut dan menanggung hutang ratusan juta. Bahkan rumahnya sempat hampir disiti karena tidak mampu membayar.

Setelah usaha kuningan bangkrut, suaminya bekerja dan ia di rumah memeras otak untuk bikin sesuatu yang laku dijual. Kemudian dia mendapat ide untuk bikin aksesoris untuk jilbab, yakni bros. Saat itu hanya punya uang Rp 500 ribu untuk dibelikan bahan–bahan.

- Ads Banner -

Awal usaha produksi bros di tahun 2011 hanya ditawarkan kepada teman–temannya. Seiring berjalannya waktu bros karyanya makin banyak pesanan, terlebih sejak dipasarkan secara online. Bahkan dari bros tersebut, perekonomian keluarganya mulai bertahap berangsur baik hingga mampu melunasi hutang ratusan juta dari hasil usaha bros itu.

Setelah trennya bros menurun dan penjualannya stagnan, tahun 2015 dia merintis usaha lain, yaitu produksi jilbab yang diberi merk Lina Livia. Dengan model kekinian dan bahan berkualitas import, serta harga di bawah Rp 100 ribu, jilbab Lina Livia laris manis di pasaran. Tidak hanya diminati di dalam negeri. Jilbab Lina Livia juga mampu rambah pasar luar negeri. Tepatnya di Taiwan dan Kanada.

Baca selengkapnya: Usaha Kuningan Bangkrut dan Punya Utang Ratusan Juta, Bune Kini Sukses dengan Lina Livia Hijab

Naini Fashion

Naini sedang menyelesaikan pesanan jahitan dari pelanggan. Foto : Ahmad Rosyidi

Naini Nikmatullah (32) pemilik Naini Fashion, pernah mengalami sulitnya mencari pekerjaan. Berbekal kemampuan menjahit yang diajarkan orang tuanya, dia mencoba melamar kerja menjadi buruh jahit di sejumlah tempat. Namun lamarannya tersebut ditolak dengan berbagai alasan.

Akhirnya pada tahun 2007 warga Desa Bae, Kecamatan Bae, Kudus itu mulai memberanikan diri merintis usaha sendiri. Saat orderan sepi, Naini juga pernah berjualan sosis di depan rumah demi meringankan beban ekonomi keluarga. Meski begitu, dia tetap menekuni menjadi penjahit.

Titik terang datang pada tahun 2010, semenjek ia mulai memposting jahitannya di media sosial. Di tahun itu pelanggan mulai banyak berdatangan dari luar kota. Hingga akhirnya dia memberi nama konveksinya Naini Fashion karena sudah mulai ramai pesanan.

Demi memenuhi pesanan pelanggan, ibu dua anak itu bekerja sama dengan belasan penjahit rumahan dan sejumlah konveksi lain. saat ini dia lebih banyak membuat pola dan memotong kain sesuai ukuran pelanggan.

Baca selengkapnya: Beberapa Kali Lamaran Kerja Ditolak, Naini Kini Sukses dengan Usaha Menjahit

Hijab Ar-Rikna

Afrikhah Khulda, pemilik Hijab Ar-Rikna bersama dengan tumpukanratusan hijab produksinya. Foto: Kartika Wulandari.

Keluar dari zona nyaman meninggalkan pekerjaan demi merintis sebuah usaha merupakan keputusan besar yang diambil Afrikhah Khulda (39). Mengalami kerugian dan ditipu penjahit saat mengawali usaha konveksi tidak membuat pemilik Hijab Ar-Rikna menyerah. Berkat kesabaran dan kegigihannya, kini dia sudah mengunduh hasil dari menggeluti bisnis konveksi tersebut.

Awal dirinya menjalani bisnis konveksi karena terinspirasi dari temannya yang sukses di bisnis tersebut. Melihat temannya yang sudah sukses, dia pun membulatkan tekad untuk merubah nasib dengan keluar dari pekerjaanya sebagai karyawan bank.

Kini Hijab Ar-Rikna sudah semakin berkembang. Setelah berjalan sekitar 11 tahun, warga Desa Sunggingan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus itu sudah menggembangkan berbagai produk selain hijab. Di antaranya, busana muslim anak, gamis dan baju muslim lainya seperti tunik dan blouse.

Karena sudah mempunyai ratusan distributor dan reseller, produk buatannya pun sudah melalang buana hingga seluruh Indonesia. Setidaknya dalam satu bulan dia bisa menjual hingga 10 ribu hijab, dan omzetnya hingga Rp 50 juta per bulan.

Baca selengkapnya: Kisah Rika, Mantan Marketing Bank yang Kini Sukses Bisnis Hijab Ar-Rikna

Editor : Ahmad Rosyidi

Lipsus 14 - Penerapan Teknologi Bambu untuk Tanggul Laut Tol Semarang Demak

Tinggalkan Balasan

31,944FansSuka
15,127PengikutMengikuti
4,337PengikutMengikuti
80,005PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler