31 C
Kudus
Kamis, Juni 30, 2022
spot_img
BerandaKISAHUsaha Kuningan Bangkrut...

Usaha Kuningan Bangkrut dan Punya Utang Ratusan Juta, Bune Kini Sukses dengan Lina Livia Hijab

BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu seorang perempuan tampak sibuk. Ia memperhatikan dengan seksama sesi pemotretan jilbab di teras rumah di Perumahan Griya Harapan, Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Setelah itu perempuan tersebut masuk rumah melihat aktivitas para pekerja yang sedang paking jilbab dan memberi arahan kepada beberapa admin yang sedang melayani para pelanggan. Perempuan tersebut yakni Lina Livia (44) owner dari Lina Livia Hijab.

Kemudian dengan agak tergesa, dia berjalan ke rumah lain yang dijadikan gudang penyimpanan kain. Tak lupa ia pun mendatangi para pekerja jahit dan obras yang memproduksi jilbab Lina Livia. Usai beraktivitas, perempuan yang akrab disapa Bune itu sudi berbagi kisah kepada tentang usahanya.

Dia mengatakan, usaha Lina Livia Hijab dirintis sejak 2015 dan mulai open distributor dan agen pada tahun 2016. Sebenarnya usaha produksi Jilbab Lina Livia adalah pengembangan usaha sebelumnya, yakni produksi bros yang dirintis dengan modal Rp 500 ribu. Dia mengaku, sewaktu mulai produksi bros untuk aksesoris jilbab, ekonomi keluarganya sedang terpuruk. Hal tersebut karena usaha logam kuningannya bangkrut.

Tampak beberapa pekerja sedang memproduksi hijab Lina Livia Hijab. Foto: Rabu Sipan
- Ads Banner -

Baca juga : Kisah Sukses Owner Nadhijab, Merintis Bisnis Hijab Sejak Masih Kuliah

“Ya dulu saya punya usaha kerajinan logam kuningan untuk suplai ke beberapa perusahaan furniture di Jepara. Namun, sayangnya kami ditipu, kerajinan logam kami tidak dibayar, sehingga kami bangkrut dan punya utang ratusan juta. Bahkan rumah kami ini dulu hampir disita,” ujar Bune kepada Betanews.id, belum lama ini.

Dia menuturkan, setelah usaha kuningan bangkrut, suaminya bekerja dan ia yang di rumah memeras otak untuk bikin sesuatu yang laku dijual. Menurutnya, daripada di rumah hanya diam, dia pun kemudian dapat ide untuk bikin aksesoris untuk jilbab yakni bros. Saat itu ia ingat persis hanya punya uang Rp 500 ribu yang dibelikan bahan – bahan. Awalnya sehari bikin dua atau tiga bros yang ditawarkan kepada teman – temannya.

Lama – kelamaan lanjutnya, bros karya Bune makin banyak pesanan. Apalagi sejak dipasarkan melalui online. Pesanannya hampir seluruh Indonesia. Bahkan dari bros tersebut, perekonomian keluarganya mulai bertahap berangsur baik dan ada peningkatan. Utang yang ratusan juta juga dilunasi dengan hasil usaha bros.

“Usaha bros itu saya rintis pada tahun 2011. Namun, bros itu ada trennya dan terbilang penjualannya stagnan. Sehingga pada tahun 2015 saya rintis usaha lain dengan produksi jilbab Lina Livia,” jelas ibu dari dua anak tersebut.

Dia mengatakan, usaha jilbab Lina Livia merupakan pengembangan usaha bros. Hal itu dilakukannya agar Bune bisa selalu eksis di dunia usaha. Sebab, ia mengaku memang menyukai dunia wirausaha. Menurutnya, sama dengan bros, jilbab Lina Livia juga ia desain sendiri. Dengan model kekinian dan bahan berkualitas import, serta harga di bawah Rp 100 ribu, jilbab Lina Livia laris manis di pasaran.

“Tidak hanya diminati di dalam negeri. Jilbab Lina Livia juga mampu rambah pasar luar negeri. Tepatnya di Taiwan dan Kanada. Bahkan kami ada distributor di dua negara tersebut,” kata Bune.

selama ini, lanjut Bune, jilbab Lina Livia hanya dipasarkan melalui media daring. Serta didistribusikan melalui para distributor dan agen resmi. Lina Livia pusat hanya bekerja sama atau berurusan dengan para distributor dan agen. Sedangkan para reseller dan member diarahkan ke distributor dan agen.

“Saat ini Lina Livia Hijab punya 55 distributor. Setiap satu distributor itu biasanya punya ratusan tim. Ya kalau ditotal semua dari distributor, sub distributor, agen, sub agen, reseller dan member jilbab Lina Livia ada ribuan orang,” tandasnya.

Dia mengaku, memilih memasarkan Jilbab Lina Livia melalui media daring karena lebih aman dari segi pembayaran. Pembayarannya tidak tempo, jadi terhindar dari penipuan atau konsumen gagal bayar seperti yang pernah dialami di usaha kuningan. Ia pun menegaskan, dalam usaha Lina Livia Hijab ia tidak menerima utang.

Baca juga : Kisah Jatuh Bangun Dicky di Usaha Sablon Kaus Hingga Punya Mesin-Mesin Canggih

“Kami memang tidak menerima utang. Semua dibayar cash. Distributor dan agen ambil jilbab ya harus bayar dulu. Begitu juga kami, saat belanja bahan kami juga tidak mau utang. Hal itu untuk menghindari riba. Selain itu agar tidak ada pihak yang dirugikan,” bebernya.

Ia pun tak lupa mengajak siapa pun yang ingin bergabung di usaha jilbab Lina Livia. Dengan gabung dengan jilbab Lina Livia, para mitra punya kesempatan untuk sukses bolak – balik. Sebab jilbab Lina Livia sangat laris dan diminati di pasaran.

“Sesuai tagline kami sukses bolak – balik. Lian Livia Hijab ingin sukses bersama para distributor dan para agen. Mari sukses dan maju bersama dengan Lina Livia Hijab,” tutupnya.

Editor : Kholistiono

Lipsus 14 - Penerapan Teknologi Bambu untuk Tanggul Laut Tol Semarang Demak

Tinggalkan Balasan

31,944FansSuka
15,127PengikutMengikuti
4,332PengikutMengikuti
80,005PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler