BETANEWS.ID, KUDUS – Balai Latihan Kerja (BLK) di Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil Menengah (Disnaker Perinkop dan UKM) Kabupaten Kudus membuka kejuruan bordir. Kejuruan baru ini menambah pilihan masyarakat menjadi 21.
Kepala Disnaker Perinkop dan UKM Kudus, Rini Kartika Hadi Ahmawati mengungkapkan, peluang pasar dari kejuruan bordir ini sangat bagus. Saat pandemi saja pelaku bordir di Kudus pasarnya masih bisa bertahan.
“Selain permintaan dari Pemerintah Kabupaten Kudus untuk seragam yang di kenakan ASN setiap hari Kamis. Bordir termasuk memiliki pasar unik untuk kalangan kelas menengah ke atas. Termasuk juga untuk batik serta tas dan dompet rajutan yang di BLK juga ada pelatihannya,” jelasnya, Rabu (16/12/2021).
Baca juga: Disnaker Gelar Pelatihan Barista Hingga Digital Marketing
Lebih lanjut Rini menerangkan, untuk pelatihan kerja di BLK, Kabupaten Kudus tahun ini mengalokasikan anggaran sebesar Rp2,693 miliar melalui anggaran Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau (DBHCHT). Adapun peruntukannya sesuai PMK-206 yakni mengadakan pelatihan kerja khusus bagi pekerja atau buruh rokok maupun keluarganya.
Ia menambahkan, pada 2021 di BLK Kudus terdapat kejuruan baru. Kejuruan tersebut yakni pelatihan digital marketing, hidroponik, roasting coffee, dan barista yang banyak menarik banyak peserta.
“Semoga dengan memaksimalkan pelatihan yang bersumber dari dana cukai ini, dapat menumbuhkan UMKM di Kudus semakin berkembang dan naik kelas,” pungkasnya.
Instruktur bordir BLK Kudus Sri Darojatun menambahkan, antusias para peserta pelatihan tahun ini cukup besar. Semangat ingin memiliki kemampuan membordir yang ditunjukkan para peserta cukup tinggi. Hal itu dibuktikan saat mereka praktik membordir.
Baca juga: Manfaatkan DBHCHT, Buruh Rokok Kudus Dapat Pelatihan Keterampilan Secara Gratis
“Pada dasarnya mereka sudah bisa membordir. Hal itu terlihat saat praktik. Tinggal jam terbang mereka setelah pelatihan untuk menghasilkan hasil bordir yang halus dan bagus,” kata instruktur yang sudah melatih di BLK Kudus sejak 2009 itu.
Bahkan, Ia bersedia memfasilitasi secara gratis para peserta yang memang terkendala alat setelah lulus pelatihan. Mereka bisa datang ke rumahnya untuk meningkatkan jam terbang agar hasil bordir semakin bagus dan halus.
“Salah satu peserta ada yang sudah memiliki usaha pakaian sampingan tapi terkendala dengan sulitnya mencari tenaga bordir untuk pakaian yang sedang dikerjakan. Tahun lalu juga ada yang seperti ini dan sekarang sudah memiliki usaha bordir yang cukup besar,” tutup Sri.
Editor: Ahmad Muhlisin

