BETANEWS.ID, SOLO – Wakil Wali Kota Solo Teguh Prakosa menyampaikan, pihaknya akan mengawal terus penerapan protokol kesehatan (prokes) dalam kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) bisa berjalan baik.
Untuk itu, ia mewanti-wanti agar penerapan prokes di sekolah dijalankan dengan maksimal. Khususnya bagi guru, diharapkan bisa memberikan contoh kepada peserta didik.
Teguh menambahkan, bahwa guru yang lalai dengan protokol kesehatan saat mengajar akan mendapatkan sanksi.
Baca juga : Soal Guru Tak Bermasker di SDN Nusukan 113, Ini Tanggapan Disdik Kota Solo
“Gurunya disanksi karena tidak prokes, kon leren, tidak boleh mengajar dulu seminggu atau 2 minggu. Itu yang kita usulkan, supaya menjadi contoh, kalau pendidik tidak menjadi contoh ki pie. Kalau sanksinya intansi sekolah, rugi semua,” tandas Teguh.
Meski demikian, Teguh mengatakan, bahwa sanksi tersebut masih dirumuskan. Ia menegaskan bahwa siswa yang tidak memakai masker menjadi tanggung jawab gurunya.
“Ya itu (sanksi) yang kita usulkan supaya harus menjadi contoh lah, mendidik tidak memberi contoh piye (bagaimana), figur menjadi contoh,” kata Teguh.
Teguh mengatakan, bahwa Pemerintah Kota Solo sangat berhati-hati dalam memberikan sanksi. Baik itu sanksi moral maupun sanksi institusi.
“Supaya apa yang kita harapkan untuk PTM ini benar-benar efektif, efisien. Kita hanya melakukan tes apakah mereka sebagai pendidik ini siap menjadi contoh pada anak-anak,” tandasnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Solo Dwi Ariyatno, menjelaskan, secara umum pelaksanaan PTM di Solo berlangsung dengan baik. Meski ada temuan kasus dari surveilans atau pengambilan sampel secara acak, Dwi mengatakan, bahwa hasil evaluasi cukup baik.
“Pantauan secara umum bagus kalau dilihat dari angka, tapi kita tidak boleh bicara angka, karena ini kaitannya dengan kesehatan dan nyawa. Tapi hasil dari sampling SD hingga SMA yang di surveilans hasil evaluasinya baik,” kata Dwi, Senin (15/11/2021).
Dwi menjelaskan, bahwa hasil dari evaluasi pelaksanaan PTM tersebut, akan menjadi dasar Pemkot Solo untuk melanjutkan surveilans ke sekolah-sekolah. Ia juga menjelaskan, bahwa evaluasi tersebut juga untuk melihat apakah protokol kesehatan sudah diterapkan atau tidak saat berlangsungnya PTM.
Baca juga : Lagi-lagi Gibran Parkirkan Mobil Dinasnya di Sekolah, Kali Ini di SDN Nusukan 113
“Evaluasi ini untuk menilai hasil proses penerapan protokol kesehatan apakah hasilnya berbanding lurus dengan apa yang sudah dilaksanakan. Harapannya dalam proses penerapan ini yang dihindari adalah adanya kasus. Cuma kasus ini kan tidak hanya terjadi terjadi di sekolah,” jelasnya.
Dwi mengungkapkan, dari hasil rapat evaluasi yang dilakukan, bahwa masih ditemukan beberapa sekolah yang tidak menerapkan protokol kesehatan dengan baik.
“Tiap pagi kami ada rapat daring dan selalu kita ingatkan pelaksanaan PTM untuk prokes. Dari beberapa sekolah ada indikasi pelanggaran prokes. Hasil evaluasi ini akan kita masukkan untuk dilakukan prioritas surveilans tes PCR. Artinya kalau ada indikasi sekolah lalai prokes kita targetkan untuk PCR,” tegas Dwi.
Editor : Kholistiono

