31 C
Kudus
Senin, Januari 26, 2026

Minim Tempat Pameran, Banyak Fosil Tak Bisa Dilihat Pengunjung Museum Patiayam

BETANEWS.ID, KUDUS – Minimnya tempat pameran di Museum Patiayam menyebabkan banyak fosil yang ditemukan di Situs Patiayam tak bisa dilihat oleh pengunjung. Kepala UPTD Museum dan Taman Budaya pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, Yusron mengatakan, meski banyak fosil yang sudah dikaji, tapi sementara ini hanya bisa disimpan.

Menurutnya, Museum Patiayam masih memiliki problem mengenai ruang pameran yang sempit. Sehingga setelah fosil resmi dikaji masih hanya disimpan di ruang penyimpanan.

“Sebenarnya temuan yang bisa dipajang banyak. Hanya saja kita masih mempunyai masalah yang sama, yaitu ruang pamerannya sempit. Jadi semua fosil yang sudah dikaji hanya bisa disimpan lagi ditempat semula,” ujarnya, usai seminar kajian koleksi Musuem Patiayam di Hotel @hom, Rabu (03/11/2021).

-Advertisement-

Baca juga: Pemkab Bakal Kembangkan Patiayam Jadi Situs Purbakala Terbesar di Indonesia

Yusron berharap, dengan kegiatan seminar dan tambahan koleksi ini bisa menarik perhatian Pemerintah Kabupaten Kudus, Pemerintah Pusat untuk mencarikan masalah lahan museum yang terbatas untuk pameran koleksi.

“Sampai saat ini konsep kita masih minimalis. Lahannya masih lahan desa, sehingga  mudah-mudahan setelah seminar ada solusi, agar kita punya lahan sendiri. Sehingga bisa membangun lahan dari dana DAK dan Cukai,” jelasnya.

Di sisi lain, Bupati Kudus HM Hartopo menerangkan, acara seminar ini sangat penting diadakan untuk membuat roadmap yang jelas, langkah-langkah yang diambil dalam menyikapi Patiayam. Meneurutnya, Museum Patiayam dengan situs arkeologinya merupakan bukti yang jelas, bahwa Kabupaten Kudus mempunyai catatan pra sejarah di masa lalu yang begitu kuat.

“Kebijakan Kabupaten Kudus sudah sangat jelas arahnya untuk mengembangkan Patiayam sebagai situs Purbakala terbesar di Indonesia,”  beber Hartopo.

Baca juga: Perluasan Bangunan Museum Patiayam Terkendala Status Kepemilikan Tanah

Soal perluasan Museum Patiayam, Hartopo mengakui jika pihaknya sampai saat ini memang terkendala masalah kepemilikan tanah yang masih dimiliki Desa Terban. Masalah inilah yang menghambat pengembangan situs purbakala tersebut.

“Solusinya salah satunya memang tukar guling, sedangkan keuangan daerah sangat terbatas. Oleh karena itu saya mohon kepada hadirin yang di sini ikut membantu memecahkan persoalan tersebut,” tandasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER