BETANEWS.ID, SOLO – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka menghadiri peresmian Pilar Perdamaian “The Water of Peace” dan Deklarasi Kelurahan Damai di Tipes, Serengan, Kota Surakarta, Sabtu (9/10/2021).
Pembacaan deklarasi desa damai dilakukan oleh tujuh perempuan mewakili warga desa. Di kesempatan itu, Ganjar dan Direktur Wahid Foundation, Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid sempat berduet menyanyikan lagu berjudul Pancasila.

Lagu yang dibawakan sebenarnya merupakan teks Pancasila. Namun dilantunkan dengan Bahasa Jawa dengan nada lagu religi terkenal berjudul Tombo Ati.
Baca juga: Jumlah Penduduk Miskin Ekstrem di 5 Kabupaten Jateng Capai 27 Ribu Jiwa
Acara tersebut juga dihadiri perwakilan UN Women yakni Dwi Yuliawati Fais. UN Women merupakan bagian dari organisasi PBB yang bergerak untuk Kesetaraan Jender dan Pemberdayaan Perempuan.
Ganjar berharap, program desa damai yang digagas Wahid Foundation dan UN Women itu bisa digabungkan dengan program desa inklusif yang telah berjalan di Jawa Tengah. Sehingga memudahkan proses pembangunan.
“Kalau itu bisa digabungkan nanti kita tambahi program ini. Maka nanti urusan hubungan antar manusianya beres, mereka aman, mereka seneng, mereka bahagia, mereka tentrem, mesti mbangune enak. Karena gotong royongnya biasanya akan kuat sekali,” katanya.
Menurutnya, program ini bagus sekali, dan jika seluruh desa bisa bikin kegiatan seperti ini, maka insyaallah desa-desa itu akan jauh lebih nyaman. Mereka akan rukun dan di Desa Tipes Solo ini bisa menjadi contoh.
Baca juga: Baru 40 Persen UMKM Binaan Dinkop UKM Solo yang Go Digital
“Kalau kemudian setiap desa ini bisa kita kerjakan, maka desa-desa akan damai. Kalau damai mikir pembangunannya gampang,” imbuhnya.
Yenny Wahid menjelaskan, program desa damai ini sudah ada di 30 desa yang 18 di antaranya telah deklarasi. Yenny mengatakan, ada tiga pilar utama yang menjadi bagian dari program desa damai.
“Pertama penguatan ekonomi masyarakat. Jadi ada pelatihan, ngajari masyarakat untuk mengatur cashflow. Kedua adalah penghormatan pelatihan untuk bagaimana kita bisa menghormati perbedaan keyakinan. Ini perlu ada mekanisme di masyarakat. Misalnya pencegahan konflik, perangkat desa ngumpulkan siapa. Ketiga peran perempuan, karena ketika dia lebih berdaya maka mereka akan memberi untuk keluaraga dan lingkungan sekitar,” tutup Yenny.
Editor: Ahmad Muhlisin

