BETANEWS.ID, KUDUS – Budi Wicaksono (38) terlihat sedang memasukkan sarung yang sudah terlipat rapi ke dalam wadah pouch. Siang itu, bersama sang istri, ia telah menyelesaikan pengepakan sarung batik bermerek Al Hazmi di gerainya yang berada di Desa Purwosari, Kecamatan Kudus, Kabupaten Kudus. Setelah menyelesaikan pengepakan, sarung-sarung itu kemudian dibawa oleh kastemernya yang sudah menunggu.
Budi menceritakan, pada mulanya ia memproduksi sarung tulis. Namun karena harga sarung tulis tidak bisa menjangkau semua kalangan, akhirnya ia berinisiatif untuk memulai inovasi baru dengan menggunakan handprint.

“Dari segi bahan dan warna hampir sama dengan tulis, tapi proses buatnya beda. Handprint itu masih manual menggunakan tangan dengan alat cetak sarungnya, tapi bukan mesin. Sehingga sarung batik handprint bisa menjangkau seluruh kalangan masyarakat,” ungkapnya, Rabu (22/9/2021).
Baca juga: Jadi Langganan Pejabat, Setiap Lembar Batik Kudus di Tere Batik Ini Bernilai Filosofis Tinggi
Budi mengungkapkan, Sarung al Hazmi telah memiliki 100 lebih motif. Beberapa di antaranya Kapal Kandas, Kedung Pasu, Parijoto, Salur, Toh Watu, Lerek Tiga Warna, Gringsing, Argomurio, Dukuh Kelangkeng, Kopo Muria, Gentengan, Klasik, Seritan, dan masih banyak lagi.
“Selain menyediakan berbagai banyak motif, Al Hazmi juga melayani pembeli yang ingin custom sesuai keinginan,” katanya.
Baca juga: Pesona Motif Batik Khas Kudus Tempo Dulu yang Tetap Lestari di Omah Batik-Ku
Menurutnya, sarungnya ini banyak sekali peminatnya. Bahkan di usaha yang dibangun 2019 lalu itu sudah mempunyai 50 lebih reseller yang berada di Pati, Kudus, Jepara, Demak, hingga Jakarta. Setiap bulan, ia bisa menjual hingga 500 sarung. Jika bulan Ramadan penjualannya meroket sampai bisa menjual 10.000 sarung.
“Penjualan sarung khas Kudusan ini telah sampai ke ranah luar negeri, seperti Singapura, Perancis, Yaman, London, hingga Mesir,” tandas Budi.
Penulis: Atmimlana Nurrona (Mahasiswa Magang IAIN Kudus)
Editor: Ahmad Muhlisin

