31 C
Kudus
Rabu, Desember 8, 2021
spot_img
BerandaBisnisTak Bisa Operasikan...

Tak Bisa Operasikan Ponsel, Pengrajin Barongan di Pedawang Ini Kesulitan Promosi

BETANEWS.ID, KUDUS – Kepala barongan berwarna merah buatan Nasidi (65) itu sudah hampir jadi. Siang itu, ia tinggal memasang lidah dan beberapa hiasan lain untuk menyempurnakan tampilannya. Di kursi bambu depan rumahnya yang berada di Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus itu, tampak berserakan berbagai jenis bahan untuk membuat barongan.

Bagi Nasidi, membuat barongan merupakan kesibukan hariannya setelah istrinya meninggal. Pekerjaan itu juga kini jadi upayanya mencari penghasilan setelah hidup sebatang kara.

“Sebenarnya saya sudah lama membuat kerajinan ini, tapi baru benar-benar saya tekunin selama 5 tahun terakhir ini,” ucapnya, Kamis (14/10/21).

- Ads Banner -

Baca juga: Besek Sarang Walet Buatan Mbah Siti Ini Banyak Diburu di Bulan Juni

Nasidi belajar secara otodidak untuk membuat barongan itu. Meski begitu, hasil buatannya sangat bagus dan rapi, bahkan karyanya itu banyak dilirik pecinta barongan. Menurutnya, pembeli rata-rata masih orang Kudus.

“Untuk pengerjaannya sendiri membutuhkan waktu yang cukup lama, kira-kira 15 hari, karena harus dipahat dulu, dikeringkan, dicat, lalu ditempeli aksesoris,” ujarnya.

Tak hanya membuat barongan komplet, Nasidi juga bisa menjual kepala barongannya saja dan topeng.  Untruk harga, ia mengaku tidak pernah mematok harga secara spesifik. Pembeli rata-rata menaksirnya seharga Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu untuk satu kepala barongan.

“Untuk satu barongan utuh dari kepala hingga ekor, biasanya ditaksir seharga Rp 2 juta. Untuk topeng harganya Rp 100 ribu,” katanya.

Baca juga: Lewat Toko Rohis, Zubaedi Berdayakan Pengrajin Anyaman Bambu di Sekitarnya

Namun, ia kini punya kendala baru yaitu susahnya mencari bahan baku utama, yaitu kayu cangkring. Sebenarnya, kayu randu dan kayu nangka bisa menjadi bahan baku. Namun, menurut Nasidi, kayu tersebut cukup berat ketika dipakai.

“Bahan bakunya mulai langka, karena kayu cangkring selain ringan dan mudah dibentuk, kayu cangkring juga tidak mudah dimakan rayap,” beber Nasidi.

Selain kesulitan mencari bahan baku, ia juga mengalami kendala di pemasaran. Dirinya menjual barongan hanya dari mulut ke mulut. Karena Nasidi juga tidak melek teknologi, sehingga tidak banyak yang mengetahui hasil kerajinannya secara luas.

“Saya masih kesusahan untuk memasarkannya, karena saya sudah tua dan tidak punya anak. Jadi tidak paham Hp dan tidak ada yang mengajari,” tandasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

Lipsus 10 - Kisah Oei Tiong Ham, Sang Raja Gula Terkaya di Asia Tenggara dari Semarang

Tinggalkan Balasan

31,087FansSuka
15,127PengikutMengikuti
4,337PengikutMengikuti
70,075PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler