31 C
Kudus
Rabu, Desember 8, 2021
spot_img
BerandaBisnisBisnis Jamu di...

Bisnis Jamu di Semarang Gandeng Warga yang Kena PHK untuk jadi Reseller

BETANEWS.ID, SEMARANG – Bisnis Jamu Kobe-08 yang dirintis oleh Tim Penggerak PKK Kelurahan Bangetayu, Kecamatan Genuk, Kota Semarang menggandeng puluhan warga yang terdampak pandemi untuk jadi reseller. Mereka rata-rata adalah seorang istri yang suaminya terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Ketua produksi Jamu Kobe-08,  Sri Muryanti mengatakan,sampai saat ini korban PHK yang tergabung dalam bisnis tersebut mencapai 40 persen dari semua resseller jamu Kobe-08.

Produk Jamu Kobe-08 yang penjualnnya hingga Papua. Foto: Dafi Yusuf.

Menurutnya, usaha jamu Kobe-08 sudah berjalan tiga tahun yakni mulai pertengahan Oktober 2018. Kini, usaha tersebut sudah mempunyai 6 varian rasa dalam bentuk botol dan instan.

- Ads Banner -

“Untuk penjualannya saat ini dalam bentuk online dan offline,” jelasnya saat ditemui di rumahnya, Senin (18/10/2021).

Baca juga: Imbas Covid-19, Produksi Jamu Tradisional di Gembong Pati Ini Meningkat Drastis

Mereka memasarkan produknya melalui media sosial dan juga beberapa toko yang tersebar di beberapa tempat. Sejauh ini, Jamu Kobe-08 juga sudah bekerja sama dengan 20 toko yang masih berada di area sekitar kecamatan Genuk.

“Kita juga buka reseller agar tetap mengeksiskan usaha jamu supaya tetap berjalan,” paparnya.

Dalam satu bulan, omzet penjualan bisa mencapai Rp 5-6 juta, dengan penjualan 800-1000 packs/botol. Bahkan, saat awal-awal pandemi permintaan konsumen pernah membeludak.

“Waktu itu per bulan bisa mencapai 10 juta lebih keuntungannya,” ucapnya.

Selain itu, selama pandemi, mereka juga kerap melakukan aksi sosial, dengan cara berbagi jamu gratis bagi warga yang terserang Covid-19.

Baca juga: Miliki Ragam Varian dan Rasa yang Enak, Olahan Jamur Mina Banyak Diminati

“Setiap kali ada warga yang terdampak langsung diberikan secara gratis supaya cepat sembuh,” paparnya.

Salah satu anggota, Eni menambahkan, bisnis jamu tersebut membantunya karena menambah penghasilan rumah tangga. Pasalnya, selama pandemi penghasilan suaminya juga menurun.

“Penghasilannya menurun namun tak banyak,” tandasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

Lipsus 10 - Kisah Oei Tiong Ham, Sang Raja Gula Terkaya di Asia Tenggara dari Semarang

Tinggalkan Balasan

31,087FansSuka
15,127PengikutMengikuti
4,337PengikutMengikuti
70,075PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler