31 C
Kudus
Rabu, Desember 8, 2021
spot_img
BerandaUMKMBatik Kendeng Buatan...

Batik Kendeng Buatan Sedulur Sikep Mampu Tembus Pasar Luar Negeri

BETANEWS.ID, PATI – Dua orang perempuan terlihat sedang menggoreskan malam dengan canting pada sebuah kain berwarna putih. Mereka tampak begitu telaten menggambar motif mengikuti pola yang telah dibubuhkan sebelumnya di kain tersebut. Satu di antara perempuan itu yakni Widiyanti, warga Sedulur Sikep yang sudah membatik sejak tujuh tahun lalu.

Sambil menggoreskan malam di tanggannya, Widiyanti sudi berbagi cerita kepada betanews.id tentang batik buatannya. Ia mengaku sudah memproduksi batik sejak tahun 2014. Membatik hanya dilakukan saat tidak ada aktivitas di sawah. Dalam mengerjakan satu lembar kain, dia membutuhkan waktu lima hari hingga sepekan.

Dua warga Sedulur Sikep sedang membatik. Foto: Ahmad Rosyidi.

Baca juga : Ajaran Sedulur Sikep, Tak Boleh Fitnah, Serakah, Mengambil Barang Temuan pun Tidak (3/6)

- Ads Banner -

“Batik ini hanya untuk pekerjaan sampingan. Saya pasarkan secara online melalui media sosial. Kebetulan jaringan persaudaraan kami sampai mana-mana. Jadi ada dari luar negeri juga yang pesan,” terangnya saat ditemui di Dusun Bombong, Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Pati, beberapa waktu lalu.

Widiyanti menjelaskan, jenis kain yang ia gunakan, yakni kain paris dan primisima. Sedangkan motifnya ada kendi, parang, kelelawar, padi, ikan dan sapi.

“Ada juga motif batik Lek Patmi, warga sini yang meninggal karena aksi penolakan pabrik semen dulu. Jadi kami jadikan menjadi motif batik, sebagai wujud penghormatan,” katanya.

Setiap lembar kain ia jual dengan harga Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Harga tersebut menyesuaikan jenis kain dan tingkat kesulitan motifnya.

“Harga kami patok segitu, kami cuma ambil ganti uang lelah sesuai tingkat kesulitan. Kalau ada yang membeli dengan harga lebih dari itu, uangnya saya sumbangkan untuk kegiatan sosial. Pemasaran sendiri sudah sampai Jerman dan Hongkong,” ungkap anak pertama dari tiga bersaudara itu.

Karena dipasarkan secara online, penjulan Batik Kendeng tidak terpengaruh Pandemi Covid-19. Hingga saat ini, pesanan masih lancar dan banyak yang inden demi memiliki batik hasil karya Sedulur Sikep itu.

Perlu diketahui, keberadaan kelompok masyarakat adat Sedulur Sikep atau banyak yang menyebutnya Samin, sejak lama telah menjadikan bertani sebagai pekerjaan utama. Bukan tanpa alasan, warga Sedulur Sikep memilih bertani karena mengikuti pesan dari leluhurnya sejak Samin Surosentiko masih hidup.

Tokoh Sedulur Sikep Pati Gunretno menjelaskan, bahwa anak cucu Samin Surosentiko disuruh bertani untuk menjaga keseimbangan alam. Dalam tatanan kehidupan, ada yang bekerja menulis, pejabat negara dan ada yang bertani. Hingga saat ini warga Sedulur Sikep masih menekuni pertanian sebagai pekerjaan utama.

“Ada juga pekerjaan yang lain, seperti bertenak, menjadi kuli atau memproduksi batik. Tetapi itu pekerjaan sampingan, bertani tetap menjadi pekerjaan utama,” terang pria yang sehari-hari mengenakan ikat kepala dan bercelana cingkrang sesuai pakaian adat Sikep itu.

Selain itu, masyarakat Sedulur Sikep juga tidak mengenal sekolah formal. Hal itu sejalan dengan ajaran Samin Surosentiko yang menolak sekolah karena dibuat oleh penjajah Belanda. Meski zaman sudah berubah, Indonesia sudah lepas dari penjajah, namun orang Sikep tetap mempertahankan hal tersebut hingga kini.

Meski tak sekolah, Gunretno menyatakan, masyarakat Sikep tetap belajar. Tidak sekolah bukan berarti tidak belajar, karena bagi orang Sikep belajar itu wajib selagi manusia masih hidup.

Baca juga : Warga Sedulur Sikep Tak Ada yang Sekolah, Gunretno: ‘Sekolah, Sesek Lehe Polah’ (6/6)

Dia menjelaskan, belajar bagi orang Sikep bertujuan untuk memperbaiki perilaku dan ucapan. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, orang Sikep cukup bertani, sebagaimana para leluhur mengajarkan mereka dalam hidup. Oleh karena itu, orang Sikep cukup belajar dari orang tuanya.

“Orang Sikep memang tidak sekolah, itu yang diajarkan oleh leluhur kami. Tapi bukan berarti kami tidak belajar. Bagi kami belajar itu untuk benerno laku becikno ucapan. Selagi orang masih hidup, wajib terus belajar,” tutur Gunretno.

Editor : Kholistiono

Lipsus 10 - Kisah Oei Tiong Ham, Sang Raja Gula Terkaya di Asia Tenggara dari Semarang

Tinggalkan Balasan

31,087FansSuka
15,127PengikutMengikuti
4,337PengikutMengikuti
70,075PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler