BETANEWS.ID, SALATIGA – Sepintas Qaryah Thayyibah tak seperti sekolah pada umumnya. Di sekolah tersebut, tak ada siswa berseragam seperti sekolah-sekolah formal. Mereka dibebaskan menggunakan pakaian apapun asal masih sopan.
Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT) berdiri pada tahun 2003 dengan konsep yakni sekolah berbasis komunitas/desa (Community Based Schooling) di Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga.
Ketua (PKBM) Qaryah Thayyibah Ahmad Bahruddin mengatakan, pendidikan formal sudah jauh di persimpangan jalan karena pada kenyataanya kadar kemandirian peserta didik itu semakin tercerabut dari lingkungannya sendiri.
Baca juga: Bantu Siswa Kurang Mampu, Eagle School Gratiskan Biaya Sekolah
“Semakin pintar malah semakin cepat larinya dari desanya sendiri karena tak dikenalkan dengan desanya sejak awal,” jelasnya, Jumat (15/10/2021).
Menurutnya, di sekolah tersebut sistem belajarnya berbeda dengan sekolah pada umumnya. Aturan yang ada, jadwal pelajaran, pakaian maupun lainnya yang berkaitan dengan kebutuhan siswa ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama.
“Hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan siswa diputuskan oleh kesepakatan siswa sendiri,” katanya.
Di sekolahan tersebut para siswa diberikan kebasan untuk menyampaikan gagasan dan nantinya apa yang telah menjadi kesepakatan bersama akan dilakukan bersama-sama pula. Hal itulah yang membuat sekolah tersebut berbeda dengan sekolahan pada umumnya.
“Di sini lebih memerdekakan siswa. Siswa diberikan kebebasan untuk berekspresi dan melakukan inovasi,” katanya.
Baca juga: SMK di Kudus Ini Punya Kelas Hotel Bintang 5 yang Super Mewah
Menurutnya, pendidikan formal saat ini lebih bertumpu pada dunia industri dan kerja yang menurutnya kesalahan awal di dunia pendidikan.
“Seharusnya tujuannya ke konteks kehidupan di lingkungan sekitar sehingga dia berpikir mengelola lingkungannya sendiri,” ujarnya.
Selain itu, dia juga mengembangkan pendidikan dasar berbasis toleransi yang diajarkan di KBGT. Setiap siswa diwajibkan untuk saling menghargai dan memaafkan.
“Asusmsinya, siapapun yang disamping Anda punya potensi untuk berkolaborasi kalau semakin beragam malah semakin bagus,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

