BETANEWS.ID KUDUS – Beberapa pria terlihat sedang mengukir kayu di bengkel yang berada di Desa Gribig RT 1 RW 2, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Ada yang sudah tampak jadi ukirannya, ada juga yang baru menggambar pola di kayu balok. Di sisi lain, seorang pria barkaus polo tampak mengarahkan para tukang kayu itu. Dia adalah Nur Hadi (46), pemilik bengkel pembuatan rumah joglo khas kudus.
Di sela-sela aktivitasnya itu, Nur Hadi menceritakan usaha yang sudah dirintis sejak 1998 itu. Awalnya, ia membuka usaha mebel Jepara Kolonialan, lemari antik, dan lain-lain yang sudah merambah Eropa. Pada perjalanannya, usaha kayu ini mengalami pasang surut, hingga akhirnya ia kini fokus membuat Rumah Adat Kudus.
“Saya memulai usaha ini pada 2020 karena waktu masih di usaha mebel, barangnya susah didapat, ungkapnya saat ditemui, Kamis (5/8/2021).
Baca juga: Awalnya Pemasok Kayu, Kini Sugiono Sukses Bisnis Pendopo dengan 30 Karyawan
Menurutnya, untuk pembuatan satu unit rumah joglo kudus ini memakan waktu kurang lebih satu tahun. Biaya yang dibutuhkan untuk membuat rumah ukuran 16,5 x 14,5 meter juga tak main-main, yaitu menyentuh Rp 3 miliar.
“Untuk bahan kayu ulinnya aja memakan biaya 470 juta dan belum termasuk pemasangan,” kata Nur Hadi.
Nur Hadi menjelaskan, yang membedakan Rumah Joglo Kudus dengan rumah joglo yang lainnya adalah, Rumah Adat Kudus punya ukiran identik berupa tumpang yang terdiri dari lima luar dan sembilan dalam.
“Motif Kudus itu seperti Motif Majapahitan. Selain unik, ukuran Rumah Joglo Kudus ini juga besar dan memerlukan alat berat, supaya lebih mudah untuk mengangkatnya,” katanya.
Dalam pembuatan Rumah Joglo Kudus, ia mendapatkan bahan kayu dari Kalimantan, Rembang, Blora, dan kayu limbah jembatan. Pembuatan satu rumah akan dikerjakan oleh 16 karyawannya.
Baca juga: Banyak Diminati, Arif Sering Kewalahan Penuhi Pesanan Ratusan Ukiran Bali Tiap Pekan
“Untuk pembuatan yang paling susah yaitu dodok besi atau jaduk besi karena memerlukan kesabaran ekstra,” bebernya.
Nur Hadi menambahkan, pemesan Rumah Joglo Khas Kudus saat ini masih dalam negeri. Paling banyak pemesanannya dari Jakarta dan Bali. Ia pernah juga mendapat pesanan dari Perancis. Sebelum menyetujui pesanan, ia juga harus berunding dahulu bersama dengan pekerja. Apabila mereka menyanggupi, maka pesanan akan diproses.
Penulis: Jery Irawan (Mahasiswa Magang IAIN Salatiga)
Editor: Ahmad Muhlisin

