BETANEWS.ID, KUDUS – Aktivitas warga di sebuah rumah yang berada di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, terlihat cukup sibuk pagi itu. Beberapa warga terlihat sedang memisahkan kopi yang berwarna merah dan hijau ke masing-masing wadah. Setelah terkumpul cukup banyak, seorang pria memasukkan biji kopi berwarna merah ke dalam karung. Ia adalah Teguh Budi Wiyono, pengurus harian Goodang Kopi Muria milik Perkumpulan Masyarakat Pelindung Hutan (PMPH).
Ditemui usai memilah kopi yang baru saja dipanen, Teguh sapaan akrabnya menjelaskan, terbentuknya Goodang Kopi Muria ini berawal dari keprihatinan warga Desa Colo terhadap kopi khas daerah tersebut. Dari situ, kemudian muncul lah inisiatif untuk mengelolanya agar penjualan kopi lebih teroganisir dan meningkat.

“Jadi selama ini kan Kopi Muria hanya dijual tanpa ada label Kopi Muria, jadi orang tidak mengenal. Nah, dengan adanya gudang ini, kita berharap semua warga bisa menjual kopinya ke gudang dan ketika dijual, akan ada label Kopi Muria. Dengan begitu, Kopi Muria bisa lebih dikenal,” jelasnya, Senin (30/8/2021).
Baca juga: Lewat Cupping Kopi, Komunitas Explore Kedai Ingin Naikkan Nama Kopi Muria
Teguh menambahkan, Goodang Kopi Muria ini baru dibangun Oktober 2020, dengan 2 bangunan gudang seluas 8 X 12 meter.
“Untuk gudangnya kita ada 2, yang pertama ada ruang solardum (pengeringan kopi) dan gudang untuk menaruh mesin, seperti mesin giling kopi kering, mesin pemecah kopi, mesin roasting, mesin giling bubuk, mesin expresso, dan mesin grindel,” jelasnya
Lalu untuk sistemnya, lanjut Teguh, nantinya Goodang Kopi Muria akan dibentuk seperti koperasi tetapi belum berbadan hukum. Jadi kedepannya, setiap petani yang menjual kopinya ke Goodang Kopi Muria, akan mendapatkan keuntungan sebanyak 20 persen.
Baca juga: Akui Pemasaran Lemah, Dispertan: ‘Jujur Saja, Kopi Kudus Belum Dikenal Hingga Pusat’
“Untuk saat ini kita masih membeli dengan harga tengkulak, tetapi ke depannya jika sudah punya keuntungan, setiap petani akan mendapatkan keuntungan 20 persen. Keuntungan ini bisa diberikan dalam bentuk uang atau pupuk,” ucapnya.
Kemudian untuk tanggapan petani dengan Goodang Kopi Muria pun cukup baik. Sudah banyak warga yang menjual hasil kopi ke tempatnya.
“Setelah hampir satu tahun berjalan, Goodang Kopi Muria sudah memiliki 40 anggota,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

